Berteman dengan Orang-orang Sholeh

Bismillahirrohmanirrohim..

Alhamdulillah, wassholatu wassalaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi waman walahu..

Asyhadu an_Laa ilaaha illa_Llah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu..

Segala puja dan puji hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam. Tiada sembahan lain dalam hidup kami kecuali hanya diri-Nya. Hanya kepada-Nya kami meminta dan hanya kepada-Nya kami memohon petunjuk.

Wahai saudaraku, bagaimana keadaan imanmu saat ini? Semoga Allah SWT selalu menjagamu di dalam kebaikan dan menjaga dirimu selalu istiqomah di jalan yang lurus. Amiin..

Pada kesempatan ini, saya ingin sedikit berbagi kepada Anda mengenai sebuah ayat dalam Al-Qur’an. Ayat yang sangat indah sekali sekaligus mengharukan. Beberapa hari yang lalu, saat membaca ayat ini, tiba-tiba saja bacaan Al-Qur’an saya terhenti dan tak terasa air mata mengalir. Sungguh, ayat ini menghunjam jauh ke dalam pikiran dan hati saya. Saya teringat pesan seorang ustadz, bahwa setiap kali kita membaca Al-Qur’an, maka kita harus menyadari bahwa ayat-ayat di dalamnya adalah ucapan langsung dari Tuhan semesta alam yang ditujukan langsung kepada setiap pembacanya. Dan pada saat membaca ayat ini, saya sungguh merasakan bahwa ayat ini ditujukan kepada saya. Sebuah ayat yang mengandung pesan yang sangat dalam sekaligus jauh melampaui segala zaman karena ayat ini dengan sangat sempurna menyingkap hakikat keimanan, kemanusiaan, dunia dan akhirat. Pada tulisan yang singkat ini, saya ingin sekali mengajak pembaca ikut merasakan betapa hebatnya ayat ini dan betapa pentingnya pesan yang disampaikan oleh Allah SWT melalui ayat ini. Semoga Allah membukakan hati kita semua untuk menerima hidayah-Nya.

Ayat tersebut termaktub dalam surat Al-Kahfi ayat 28:

Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di waktu pagi dan petang hari dengan mengharap keridhoan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang yang telah Kami jadikan hatinya lalai dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaan mereka itu melampaui batas.”

Ayat tersebut menjelaskan tentang perintah Allah SWT kepada Rasulullah SAW dan setiap orang yang beriman untuk senantiasa bersabar di atas jalan kebenaran bersama-sama dengan orang-orang sholeh. Ayat tersebut mengingatkan kita untuk selalu mendekat dan berkumpul bersama orang-orang sholeh, yakni mereka yang senantiasa mengingat Allah di waktu pagi dan petang. Orang-orang sholeh ini, yang kita diminta untuk selalu bersama dengan mereka, ialah mereka yang hanya mengharapkan keridhoan Allah SWT dalam hidupnya. Mereka tidak pernah lepas dari tuntunan agama Islam dan yang mereka harapkan dalam kehidupan dunia ini hanyalah Allah semata.

Kemudian ayat tersebut mengingatkan kita semua agar jangan pernah jauh dari orang-orang yang sholeh itu disebabkan kita lebih akrab dengan orang-orang yang tidak pernah mengingat Allah karena kita menginginkan kesenangan dunia. Dan sebagaimana halnya orang-orang yang tidak pernah mengingat Allah, maka kebanyakan orang-orang fasik dan orang kafir melakukan apa saja yang mereka senangi di dunia ini. Ketiadaan atau lemahnya iman dalam diri mereka menyebabkan mereka hanya memikirkan kesenangan dunia. Dan kita dapat melihat di dunia ini, mereka akan menawarkan segala macam jenis kesenangan yang melalaikan. Mereka bahkan memiliki kekayaan yang melimpah ruah, penampilan yang keren, ucapan yang menarik perhatian, dan berbagai macam perhiasan dunia. Kebersamaan bersama mereka tentunya akan sangat menyenangkan jika kita hanya memikirkan kehidupan dunia semata. Bergabung dan berkumpul bersama mereka akan mendatangkan kesenangan, kemewahan, dan mungkin juga kita akan ikut terangkat status sosialnya. Namun, Allah SWT mengingatkan seorang muslim untuk tidak mengikuti mereka, apalagi jika kemudian ia menjauhi saudara-saudara mu’min yang telah jelas kesholehannya dan kemudian mendekat kepada orang-orang fasik seperti itu.

Wahai saudaraku, sesungguhnya kita banyak melihat di sekeliling kita bahwa kebanyakan muslim yang ta’at dalam beragama bukanlah mereka yang dikaruniai harta kekayaan yang melimpah, juga bukan orang terkenal atau memiliki kedudukan tinggi. Saya amati sebagian besar orang-orang yang rajin ke masjid adalah mereka yang hidup sederhana, jauh dari kemewahan duniawi, dan bukanlah orang terkenal. Orang-orang sholeh sibuk berzikir dan mengingat Allah saat di dalam masjid maupun saat beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari. Mereka akrab dengan Al-Qur’an dan rajin datang ke kajian-kajian Islam. Anda akan mengenal mereka bukan sebagai orang yang berkeras untuk mendapatkan ketenaran dan popularitas karena mereka hanya mengharapkan ridho Allah, sebagaimana yang tersebut dalam ayat di atas.

Apakah Anda tahu wahai saudaraku, apakah yang akan Anda dapatkan jika Anda bergaul bersama orang-orang sholeh? Anda mungkin akan mendapati diri Anda diajak untuk ikut mengaji, bersedekah, membuat program-program untuk membantu orang susah, menghindari kemaksiatan, dan meninggalkan beberapa kesenangan-kesenangan hidup yang selama ini mungkin Anda sering kerjakan. Tidak ada kehidupan hura-hura, tidak ada cara-cara instan untuk memperoleh kekayaan, tidak ada popularitas, dan tidak ada kedudukan terhormat yang akan ditawarkan oleh mereka kepada Anda. Bahkan, banyak di antara mereka adalah para pedagang kaki lima, pekerja kasar, dan pegawai kelas rendah yang mungkin tidak menjanjikan Anda mendapatkan kemewahan atau kedudukan terhormat jika Anda bergaul bersama mereka. Sebagian dari orang-orang sholeh ada juga yang berasal dari kelas menengah ke atas, orang terhormat, berharta banyak, atau cukup terkenal. Namun, mereka juga tidak pernah menawarkan kesenangan duniawi sebagaimana halnya yang ditawarkan oleh orang-orang fasik dan kafir.

Sebagian orang yang beriman mengenal dan bergaul bersama orang-orang sholeh. Sebagian lagi hanya melihat dari jauh dan mengetahui mereka sebagai orang-orang aneh atau bahkan orang-orang miskin dan bodoh. Sebagian lagi menganggap mereka adalah orang yang hina. Lalu, ada sebagian orang beriman yang kemudian mengenal orang-orang kaya, kaum sosialita, orang-orang intelek, dan orang-orang yang memiliki kedudukan terpandang di masyarakat, tetapi mereka tidak memiliki keimanan yang mendalam dan tidak menampakkan tanda-tanda kesholehan. Kemudian, dari perkenalan ini seorang muslim mungkin mendapatkan beberapa keuntungan duniawi. Mereka mendapatkan modal bisnis, mendapatkan saran yang berharga, mendapat chanel dalam jaringan internasional dan kelas atas, dan bahkan ada yang mendapatkan uang yang sangat banyak. Bergaul bersama orang-orang fasik mendatangkan banyak manfaat dan kesenangan dunia. Ia menjadi sering hura-hura dan memperoleh kesenangan pribadi yang sangat menyenangkan.

Orang-orang fasik dan kafir datang kepada seorang muslim dengan menawarkan berbagai macam kesenangan dunia. Dia datang kepada seorang muslim yang taat sebagai wanita cantik yang menawarkan kesenangan sesaat, pekerjaan, uang, atau sekedar perbincangan menarik yang mendekati zina. Sebagian lainnya datang kepada muslimah sebagai lelaki tampan, keren dan baik yang menawarkan kekayaan, kendaraan, kemudahan hidup, bisnis, atau sekedar menemani makan siang yang menyenangkan. Orang-orang seperti ini pasti akan hadir dalam kehidupan setiap muslim/ah. Sebagian lainnya tidak menawarkan kekayaan karena memang mereka tak memiliki harta yang banyak, tapi mereka datang dan menawarkan ide perbuatan keji (fahisyah) dan zholim. Ada yang mengajak memakan makanan yang tidak halal, meminum khamar, berjudi, korupsi, mendekati zina bahkan berzina, menghabiskan waktu dengan pembicaraan yang sia-sia, menggunjing orang lain, memakan riba, dan banyak perbuatan lain yang jelas-jelas dosanya. Ada lagi yang datang dengan halus dan tanpa terasa memasukkan pemikiran-pemikiran bathil seperti liberalisme, komunisme, feminisme, atheisme, fanatisme, materialisme, hedonisme, homoseksualisme dan lain sebagainya. Ide-ide tersebut terdengar dan tampak begitu sempurna, apalagi jika yang membawanya datang dengan menawarkan kemudahan hidup dan kedudukan yang terpandang atau uang yang banyak.

Perhatikanlah wahai saudaraku, saat berbagai jenis manusia datang dalam kehidupan seorang muslim, maka ia akan terpengaruh oleh orang-orang yang datang dari sekelilingnya tersebut. Anak-anak muda yang dahulunya rajin mengaji dan memiliki komitmen terhadap agamanya, semakin hari semakin banyak mengenal berbagai jenis kefasikan dari orang-orang fasik yang dikenalnya di kampus atau di tempatnya bekerja. Dan setiap muslim yang menemukan orang-orang sholeh dalam hidupnya juga menjumpai orang-orang yang fasik dan kafir yang notabene jumlahnya lebih banyak dan mudah ditemui di manapun. Lalu mulailah muncul dalam lintasan pikirannya, bahwa kehidupan agamis dan spiritualis yang lekat dengan orang-orang sholeh tampak begitu monoton dan membosankan. Kehidupan seperti itu tidak keren, tidak memiliki prestise, dan tidak memiliki landasan ilmiah yang kuat.

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan tatkala diperlihatkan kepada Allah isi hatinya tampaklah ia sebagai orang yang paling keras pertentangannya” (Al-Baqarah: 204)

Kemudian sebagian kaum muslimin yang dangkal pemikirannya dan lemah imannya mulai percaya dengan ide-ide bathil yang datang dari luar Islam. Wanita-wanita muslimah mulai percaya dengan ide feminisme dan melepas sebagian hijabnya sedikit demi sedikit. Kain hijab mereka semakin hari semakin pendek, make-up mereka semakin tebal, semakin tak bisa menjaga kehormatannya. Pemikiran ini pada awalnya datang dari pengalaman kehidupan sosial mereka saat melihat wanita-wanita lainnya berdandan dengan cantik tanpa mempedulikan masalah aurat dan mencari perhatian kaum lelaki hanya agar diakui sebagai wanita yang cantik. “Jika wanita-wanita itu bisa dengan leluasa tampil sempurna di depan umum, mengapa kami tidak?”, demikian lintasan pikiran yang muncul dalam benak para muslimah. Lalu mereka mulai mempertanyakan prinsip-prinsip Islam dan berpikir bahwa semuanya itu hanyalah sesuatu yang bodoh.

Sedangkan kaum muslimin yang lainnya mulai menelan ide-ide bathil lain tanpa resistansi yang mumpuni karena lemahnya iman mereka dan dangkalnya pemahaman agama mereka. Dengan mudahnya mereka berpikir bahwa kaum muslimin yang berjuang menegakkan agama Allah adalah para teroris. Mereka mulai mempertanyakan ayat-ayat Al-Qur’an dan hukum-hukum Islam. Mereka percaya pada sebagian isinya dan mendurhakai sebagian yang lain. Mereka kritisi ayat-ayat yang menurut mereka tidak sesuai dengan kemajuan zaman. Mereka menilai kalam Allah yang mulia tersebut seperti halnya mereka meresensi buku-buku dalam situs-situs di internet dengan memberi label bintang 1 sampai 5. Tidakkah mereka ingat bahwa Al-Qur’an adalah firman Tuhan pencipta, pemilik, dan penguasa alam semesta yang berhak berkehendak sesukanya? Tidakkah mereka tahu bahwa Al-Qur’an adalah ucapan seorang Rabb dan Ilah (majikan tertinggi) kepada budak hina yang tidak memiliki apapun di dunia ini, apalagi hak untuk mengkritisi kebijakan Majikannya? Tidakkah mereka menyadari bahwa Islam adalah konsep sempurna yang datang dari Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana sedangkan manusia adalah makhluk yang jahil dan zholim?

Namun apa daya, seorang muslim yang lemah akan terseret arus kehidupan dunia disebabkan orang-orang yang mengelilinginya adalah orang-orang yang lalai dari mengingat Allah. Ia tak berdaya menahan godaan itu karena kebutuhan serta kesenangan akan kemudahan dan perhiasan dunia yang dapat mereka peroleh. Lalu berpalinglah ia dari orang-orang sholeh dan mendekatlah ia pada orang-orang fasik dan kafir. Perlahan tapi pasti, ia mengikuti jejak orang-orang yang hanya memuaskan hawa nafsunya semata. Demikianlah, pengaruh lingkungan dalam hidup akan menyeret seseorang ke dalam jurang kenistaan. Barangsiapa yang berteman dengan orang fasik dan menjauh dari orang-orang sholeh, maka dirinya akan ikut melakukan berbagai perbuatan zholim dan keji yang ditularkan oleh kawan-kawannya yang fasik tersebut.

Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium ban wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR.Bukhari & Muslim).

Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui sifat kehidupan dunia dan watak manusia. Oleh karena itu, Allah SWT sudah mewanti-wanti melalui firman-Nya agar para hamba-Nya selalu berhati-hati dalam memilih teman pergaulan.

Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di waktu pagi dan petang hari dengan mengharap keridhoan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang yang telah Kami jadikan hatinya lalai dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya, dan adalah keadaan mereka itu melampaui batas.”

Wahai saudaraku, jika Anda pernah memiliki teman-teman yang sholeh, janganlah Anda pernah berpikir sedikitpun untuk berpaling dari mereka. Sesungguhnya teman sholeh Anda adalah aset yang paling berharga yang Anda miliki. Mereka adalah kawan sejati dalam hidup Anda. Tak peduli semiskin apapun dirinya, serendah apapun kedudukan sosialnya dalam pandangan manusia, sejauh apapun penampilan dirinya dari konsep modis yang dikenal luas saat ini, jangan sampai Anda menjauh darinya hanya karena Anda tak dapat menemukan faedah duniawi apapun dari persahabatan Anda dengannya. Sesungguhnya manfaat persahabatan Anda dengan dirinya akan berlangsung sepanjang hayat bahkan hingga Anda meninggal dunia sekalipun. Mereka adalah sarana taufik dan hidayah Allah. Dan itu adalah yang paling mahal di dunia ini.

Cobalah Anda berpikir sejenak dengan jernih dan tulus, teman-teman seperti apakah yang Anda miliki saat ini? Apakah mereka teman-teman yang mencintai Allah dan RasulNya melebihi apapun di dunia ini? Apakah mereka merupakan orang-orang yang selalu mengingat Allah dan senantiasa memberikan nasihat takwa? Ataukah mereka hanyalah orang-orang yang selalu mengajak diri Anda bercanda, bergunjing, meyerempet hal-hal dosa, dan tak pernah mengingatkan diri Anda dan diri mereka sendiri kepada jalan Allah, lalu Anda bahagia berteman dengannya? Cobalah temukan jawaban pertanyaan ini, apakah teman yang Anda temui setiap harinya dan paling dekat dengan Anda dalam kesibukan Anda sehari-hari merupakan orang yang menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya? Apakah teman yang Anda jadikan tempat curhat Anda setiap hari dan Anda mintai nasihat adalah orang yang mencintai Al-Qur’an dan memahami sunnah Rasul? Jika Anda menemukan bahwa ternyata teman akrab Anda sehari-hari adalah orang yang tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka berhati-hatilah wahai saudaraku. Mintalah perlindungan kepada Allah agar Ia menyelamatkan Anda dari keburukan orang-orang di sekeliling Anda.

Wahai saudaraku, berdo’alah kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar Ia memberikanmu teman-teman yang sholeh dalam kehidupanmu. Mintalah kepada-Nya agar Ia mempertemukanmu dengan orang sholeh yang dapat Anda jadikan teman akrab dalam hidup Anda. Jika Anda seorang laki-laki muslim, maka carilah laki-laki sholeh yang dapat Anda jadikan kawan akrab. Jika Anda seorang wanita muslimah, maka carilah muslimah sholehah untuk Anda jadikan teman akrab. Berusalah mencari teman seperti itu dengan sekuat tenaga. Berkenalanlah dengan sebanyak mungkin teman-teman yang sholeh dan luangkanlah waktu Anda bersama mereka. Carilah ia di masjid-masjid, halaqah-halaqah (kumpulan kajian) keislaman, atau di tempat-tempat di mana Islam ditegakkan di sana. Dan itu hanya bisa Anda dapatkan jika Anda juga punya komitmen untuk sering pergi ke tempat-tempat seperti itu. Mustahil Anda akan bertemu dengan teman-teman yang sholeh jika Anda juga tidak pernah mendatangi majelis ilmu dan zikir. Jika suatu saat Anda bertemu dengannya, maka kenalilah ia dengan baik dan jadikan ia teman akrabmu dan jangan pernah Anda berpaling darinya bagaimanapun keadaan dirinya. Mintalah nasihat darinya dan teladanilah akhlak dan kebiasaannya yang mulia.

Wahai saudaraku, sadarilah dengan sungguh-sungguh bahwa mencari teman-teman sholeh dan menghindarkan diri dari orang-orang fasik adalah kewajiban yang Allah perintahkan. Sungguh, teman-teman sholeh Anda itu adalah anugerah yang Allah berikan kepada Anda, maka jangan sampai Anda menyia-nyiakan waktu Anda. Lingkungan yang baik dan kondusif (bi’atus salimah) adalah modal yang sangat penting dalam mengarungi kehidupan ini di jalan Allah. Ia lebih berharga dari kekayaan dan kesenangan dunia apapun yang Anda temukan di dunia ini. Dan jauhilah orang-orang yang tidak mengenal Tuhannya. Jagalah jarak antara dirimu dengannya karena sungguh mereka akan meyeretmu ke dalam api neraka. Berdo’alah kepada Allah agar Allah memberikan petunjuk kepada mereka. Anda tentu harus berdakwah kepada mereka, tapi ingatlah baik-baik saudaraku, mereka bukan teman baik Anda. Jangan jadikan alasan kedekatanmu dengan orang-orang fasik karena Anda ingin berdakwah dengannya kemudian melalaikan saudara-saudaramu yang sholeh. Apalagi jika Anda menyadari bahwa Anda bukanlah orang yang memiliki keimanan yang kuat dan mudah tergoda dengan kefasikan.

Bahkan, ayat ke-28 dari surat Al-Kahfi yang sedang kita bahas saat ini ditujukan pertama kali kepada Rasulullah SAW agar tetap bersama orang-orang sholeh meskipun kedudukan mereka lemah dalam masyarakat. Rasululah SAW diingatkan untuk tidak mengindahkan permintaan orang-orang terpandang yang menginginkan orang-orang miskin pergi ketika mereka mendengarkan ceramah Rasulullah SAW. Bayangkanlah wahai saudaraku, Rasulullah SAW saja yang memiliki keimanan yang sempurna diperingatkan oleh Allah SWT agar tetap mengutamakan kaum muslimin yang sholeh saat berdakwah kepada orang-orang kaya yang fasik. Lalu bagaimana dengan diri kita yang imannya lemah, tapi ingin menjadikan alasan berdakwah kepada orang-orang fasik sebagai kesempatan untuk berteman akrab dengannya. Tentu saja alasan tersebut tidak dapat diterima.

Wahai saudaraku, sesungguhnya saya sangat ingin mengajak Anda semua, dan khususnya diri saya sendiri untuk mencari dan menghabiskan banyak waktu dengan berkumpul bersama orang-orang sholeh. Seandainya saya hanya diberikan satu kesempatan terakhir untuk meninggalkan wasiat, maka saya akan menjadikan nasihat saya untuk mencari orang sholeh sebagai teman akrab ini sebagai wasiat terakhir dalam hidup saya agar Anda dapat menjadi orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT. Berkumpullah bersama orang sholeh sebanyak mungkin yang bisa Anda lakukan. Datangilah majelis-majelis mereka. Genggam tangan mereka dan ikuti mereka ke manapun mereka melangkah. Saling nasihat-menasihatilah bersama mereka dalam kebenaran, kesabaran, dan takwa. Insya Allah, Allah SWT akan membukakan jalan hidayah dan memudahkan urusan hidup kita di dunia dengan menjadi hamba-Nya yang bertakwa.

Wallahu a’lam bis showab..

About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s