Menghindarkan Diri Dari Keterperdayaan (1)

A’udzubillahi min_as-syaithoni_ar-rojim, bismillahirrohmanirrohim..

Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad,
Sebelum saya memulai tema ini, izinkan saya sedikit menjelaskan bagaimana semua tulisan ini tersusun dan ditulis. Saat pertama kali terlintas ide untuk membuat blog seperti ini, saya kemudian membuat daftar akhlak yang harus ada pada diri seorang mu’min -lebih tepatnya akhlak orang yang bertakwa- dan saya membuat urutan keutamaan akhlak tersebut sesuai prioritasnya. Daftar itu berisi puluhan kebiasaan atau sifat-sifat terpuji yang sebenarnya sudah biasa ditulis atau dipaparkan, tetapi saya merasa bahwa ada banyak rahasia dan hikmah yang tak pernah terungkap mengenai semua akhlak tersebut. Kemudian saya berusaha untuk menjelaskannya sesuai dengan apa yang saya pahami berdasarkan ilmu saya yang masih sedikit dalam renungan-renungan atas kajian saya terutama saat membaca Al-Qur’an. Kebanyakan hasil renungan tersebut merupakan saripati dari semua buku yang pernah saya baca atau kajian yang telah saya ikuti. Sedangkan apa yang akhirnya saya tulis adalah kesadaran atau gugahan jiwa yang muncul saat saya membaca Al-Qur’an atau sedang menjalani hari-hari saya.

Saya khawatir ilmu dan hikmah tersebut hilang dan terlupakan khususnya oleh diri saya sendiri karena kesibukan saya sehari-hari. Saya juga khawatir bahwa ilmu dan hikmah tersebut tidak terdokumentasikan sehingga hilang begitu saja dan tidak memberi manfaat. Maka kemudian saya menuliskannya di sini sebagai suatu model ideal akan pribadi seorang mu’min yang sempurna yang dapat saya jadikan panduan dalam kehidupan saya. Sementara diri saya sendiri saat ini sangatlah jauh dari apa yang saya tulis sendiri di sini. Kemudian saya menemukan rintangan dan hambatan besar saat berupaya untuk menjadi seseorang yang ada dalam idealisme tulisan-tulisan di sini. Dan dalam proses ini saya menemukan bahwa ada satu poin penting yang saya lupakan saat menyusun panduan akhlak seorang mu’min. Sebelumnya saya hanya membuat daftar kebiasaan dan sifat baik yang seharusnya dimiliki oleh seorang mu’min, tetapi lupa mencantumkan faktor perusak atau sifat negatif yang seharusnya dihindari oleh seorang mu’min.
Sesungguhnya untuk menjadi seorang yang bertakwa, seseorang tidak hanya dituntut untuk mengetahui jalan kebaikan, tetapi juga harus mengetahui jebakan-jebakan yang dapat membuatnya terperosok ke dalam keburukan. Hal ini sangat penting agar dapat menghindarkan dirinya dari sifat yang justru akan menghambat ikhtiarnya menjadi orang yang bertakwa. Oleh karena itu, di sini saya menambahkan satu sifat yang tidak boleh dimiliki oleh seorang mu’min. Dan saya menemukan bahwa keburukan terbesar yang tidak boleh ada pada diri seorang mu’min karena akan merusak seluruh pondasi keimanannya adalah ghurur atau keterperdayaan. Maka akhirnya saya memutuskan untuk menyisipkan tulisan mengenai ghurur dan menggeser urutan-urutan lainnya yang sudah saya susun sebelumnya untuk menekankan betapa tingginya prioritas mu’min untuk mengenal bahaya ghurur ini.
Tahukah Anda apakah ghurur itu? Mengapa saya sampai mengutamakan untuk menulis tema ini dan menggeser tema yang telah tersusun sebelumnya? Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya ghurur adalah suatu penyakit yang sangat mematikan dan bencana terbesar dalam hidup manusia. Begitu besarnya bahaya ghurur ini hingga saya tahu bahwa tidak cukup menjelaskan permasalahan ghurur ini dalam satu tulisan sehingga saya memecahnya menjadi dua bagian. Bagian pertama akan mejelaskan ghurur terhadap kehidupan dunia dan bagian kedua (insya Allah) akan menjelaskan mengenai ghurur dalam ibadah.
Wahai saudaraku, sesungguhnya dunia yang kita hidup di dalamnya saat ini merupakan ladang amal yang dipenuhi dengan jebakan-jebakan yang mampu membunuh Anda. Dunia itu seperti medan pertempuran yang dipenuhi oleh ranjau-ranjau yang tak tampak dari permukaannya. Bahkan ada ranjau yang sengaja diletakkan di bawah pohon yang rindang dan dekat sungai sehingga menarik orang yang melewatinya. Bagi orang-orang yang tidak waspada dalam berjalan di atasnya maka amat besar kemungkinan baginya untuk terperosok ke dalamnya. Dan seperti itulah keadaan orang-orang yang terperdaya akan kehidupan dunia. Patut Anda ketahui bahwa sesungguhnya orang yang terperdaya adalah orang yang tertipu. Apapun jenis keterperdayaan yang menimpa manusia sebenarnya merupakan ilusi yang manusia tidak sadar akannya. Sedangkan orang-orang yang terperdaya adalah mereka yang bodoh karena tidak memiliki ilmu agama, lemah imannya sehingga tidak takut akan dosa, dan lemah tekadnya sehingga tidak dapat menghindarkan diri darinya.
Ghurur atau keterperdayaan itu memiliki beberapa tingkatan sesuai dengan tingkat keimanan manusia. Yang paling rendah dari beberapa level ghurur adalah terperdaya oleh kesenangan dunia. Dan tidak ada orang yang masuk dalam golongan ini kecuali mereka yang kafir kepada Allah, orang-orang mujrim, serta orang yang imannya sangat lemah atau bahkan berada di perbatasan. Mereka adalah orang-orang yang meninggalkan agamanya demi merasakan kenikmatan dunia yang sesaat. Mereka tenggelam dalam dosa dan tidak dapat keluar darinya karena mereka tak tahu arah kehidupan. Mereka terperdaya oleh kesenangan dunia sehingga mengira bahwa satu-satunya kehidupan yang ada hanyalah kehidupan dunia itu sendiri. Kesenangan yang mereka larut di dalamnya merupakan tujuan hidup sekaligus menjadi tuhan bagi dirinya.
(Orang-orang kafir itu berkata):Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali kita tidak akan dibangkitkan lagi, (Al-mu’minun:37)

Anda akan melihat orang-orang ini mengisi dunia di setiap tempat. Sebagian besar dari mereka bahkan memiliki teknologi tinggi dan menampilkan peradaban modern. Mereka banyak mengisi dunia hiburan sehingga tampak di layar televisi setiap harinya. Keberadaan mereka membius jutaan mata yang memandangnya dengan segala kemewahan dan kesenangan yang ditawarkannya sehingga mengundang lebih banyak orang lagi mengikuti jalan mereka. Kemudian orang-orang akan mengikuti di belakang mereka sehingga berlomba-lomba berada di jalan hidup yang mereka jajakan. Anda akan lihat mereka bersenang-senang, bermain musik dengan riuh disertai tepuk tangan yang ramai, minum-minuman keras, berzina, berjoget dan menari, tertawa dan melakukan segala jenis kesenangan dunia.
Penampilan mereka sangat bergaya dan mengundang decak kagum orang yang melihatnya. Kaum wanitanya sangat cantik dan menanggalkan pakaian mereka sehingga tampaklah aurat mereka. Kaum lelakinya sangat tampan, mengenakan pakaian yang bagus dan rapi, serta memiliki harta yang melimpah. Anda akan mendapati kebanyakan mereka adalah orang-orang kaya dengan pekerjaan dan kedudukan yang terhormat di masyarakat. Ada di antara mereka yang merupakan seniman ternama, pengusaha-pengusaha kelas atas, eksekutif muda, hingga orang-orang intelek dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Mereka mengisi tempat-tempat hiburan, mal, plaza, diskotik, dan klub-klub malam di seluruh dunia ini. Tapi mereka tidak hanya itu. Jutaan remaja, orang menengah dan miskin juga terseret akan kehidupan yang dipenuhi kesenangan. Mereka turut menikmati kehidupan yang dipenuhi kesenangan sama seperti orang-orang kelas atas yang mereka idolakan. Hanya saja, kesenangan yang mereka dapatkan disesuaikan dengan tingkat penghasilan dan kedudukan mereka di masyarakat. Pada dasarnya, mereka semua adalah golongan yang sama.
Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (Hud:15-16)
Mereka adalah seburuk-buruknya makhluk hidup yang ada di kolong langit. Mereka tenggelam dalam kesenangan dunia seperti orang yang tenggelam di lautan di malam hari yang sangat gelap. Di atasnya ada awan mendung tebal yang saling tindih-menindih disertai hujan badai yang sangat besar. Kegelapan di atas kegelapan.Tak ada cahaya yang masuk ke dalam hati mereka. Mereka adalah orang yang telah terperdaya dengan kesenangan dunia dan tidak lagi dapat melihat kehidupan di luar itu. Mereka bekerja untuk itu dan mati di atasnya. Kemudian orang-orang yang lemah akalnya mengatakan, “Bukankah tujuan kehidupan dunia adalah mencari kesenangan? Lalu mengapa kita tidak mengikuti mereka? Lihatlah kehidupan mereka yang penuh kebahagiaan! Maka pergilah bersama mereka dan carilah kesenagan dunia seperti yang telah mereka dapatkan! Jika seandainya Tuhan murka atas mereka, tentu saja mereka sudah dimusnahkan, tetapi ternyata mereka adalah orang paling beruntung di dunia dengan segala kemudahan dan kesenangan hidup yang mereka rasakan.”
Wahai saudaraku, ketahuilah sesungguhnya telah jamak diketahui oleh para ulama bahwa salah satu balasan dari amal baik seseorang adalah Allah mudahkan baginya untuk mengerjakan amal baik yang lain, dan salah satu balasan dari amal buruk seseorang adalah Allah mudahkan baginya untuk mengerjakan amal buruk yang lain. Dan demikianlah yang diterima oleh orang-orang mujrim, yaitu orang-orang yang tenggelam dalam dosa, bahwa ia akan semakin tenggelam dalam dosa dan menikmati keberadaan di dalamnya. Allah telah murka kepada mereka sehingga mereka dibiarkan semakin larut dalam dosa yang lebih besar lagi.
Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (Al-hijr:3)

Yang demikian itu dinamakan sebagai istidraj. Tahukah Anda apakah istidraj itu? Sesungguhnya istidraj adalah diulur-ulurkannya balasan azab atas amal buruk yang dikerjakan manusia. Karena itu, manusia tersebut menjadi merasa aman dari azab Allah padahal azab Allah itu sudah pasti datangnya dan sangat dekat. Wahai saudaraku, berlindunglah kepada Allah agar Ia tidak menimpakan istidraj atas diri Anda karena istidraj adalah seburuk-buruknya keadaan di dunia. Dan tidak menerima istidraj kecuali orang-orang yang Allah sudah tidak peduli lagi akan dirinya. Lalu kepada siapa lagi kita akan meminta perlindungan jika Allah sudah tidak lagi peduli kepada diri kita? Maka waspadalah wahai saudaraku jika Anda semakin mudah mengerjakan dosa tanpa ada orang yang menegur Anda. Takutlah jika Anda semakin bahagia, semakin kaya, dan semakin sukses padahal Anda semakin meninggalkan Allah karena bisa jadi itu adalah tanda-tanda ditimpakannya istidraj atas diri Anda.
Maka janganlah sekali-sekali Anda berpikir bahwa kehidupan orang-orang yang bersenang-senang di dunia itu adalah kehidupan yang menarik hati Anda. Palingkanlah diri Anda darinya dan janganlah Anda sampai terjerumus ke dalamnya. Berhati-hatilah dari segala hal yang dapat menyeret Anda ke dalam dunia seperti itu. Mohonlah ampun dan kembalilah kepada Allah jika Anda sudah mendapati diri Anda lebih banyak berada di mal dibandingkan di masjid, jika Anda sudah lebih banyak membaca informasi dunia hiburan daripada membaca Al-Qur’an, jika Anda lebih banyak menonton televisi dan film di bioskop daripada mendatangi majelis ilmu dan zikir, jika Anda lebih banyak tertawa daripada berzikir kepada Allah, jika Anda lebih sering bicara seronok daripada diam, jika Anda lebih banyak memiliki teman yang lalai daripada teman yang sholeh, jika Anda lebih banyak mendengarkan musik dan lagu daripada mendengarkan nasihat.
Sungguh wahai saudaraku, terperdaya akan kesenangan dunia tidak datang begitu saja, akan tetapi melalui tahapan yang menipu Anda. Kesenangan dunia itu seperti fatamorgana yang tampak dari jauh saat Anda kehausan di tempat yang sangat panas. Awalnya ia hanyalah bisikan halus yang mengajak Anda untuk mencobanya, tetapi kemudian Anda terjerumus padanya. Dan jika Anda berpikir bahwa keadaan seperti yang telah dipaparkan sebelumnya merupakan kondisi yang sangat jauh dari keadaan Anda saat ini, janganlah Anda berpikir bahwa Anda pasti selamat darinya. Sungguh saya telah menyaksikan beberapa orang yang dahulunya sangat sholeh tapi kemudian mereka terjerumus ke dalamnya. Mereka tertarik oleh kesenangan dunia seperti tertariknya besi oleh magnet. Tidak wahai saudaraku, jangan pernah Anda berpikir bahwa Anda telah selamat darinya meskipun Anda tidak seperti itu saat ini. Teruslah berlindung kepada Allah dan mendekatlah kepada-Nya. Karena sesungguhnya godaan itu pasti datang dalam wujud yang Anda tidak sadari. Awal keterperdayaan itu bisa jadi datang dari orang terdekat Anda, kawan baik Anda, pekerjaan Anda, atau bahkan angan-angan Anda sendiri. Berhati-hatilah wahai saudaraku, sesungguhnya setan itu mengalir bersama aliran darah manusia.
Sesungguhnya senjata setan yang paling utama adalah angan-angan. Maka ia menghidupkan angan-angan mengenai segala sesuatu ke dalam pikiran Anda. Terkadang angan-angan itu mengajak Anda untuk memikirkan sesuatu. Kemudian ia mengajak Anda untuk mencobanya dengan membisikkan bahwa Anda tak akan celaka jika hanya mencobanya sedikit. Kemudian ia akan mengajak Anda untuk mencobanya lebih banyak lagi karena tak akan ada yang melihat dan mengetahui. Kemudian ia akan mengajak Anda untuk mengerjakan sesuatu yang menyerempet dosa karena hal itu tidak akan mendapat kemurkaan Allah, dan seterusnya. Bukankah semuanya itu hanyalah angan-angan yang dibisikkan setan? Ia akan terus membisikkan pikiran jahat kepada Anda dengan memberikan angan-angan keselamatan dari azab Allah, kenikmatan sesaat, serta skenario-skenario yang Anda sendiri tak akan mengetahui kebenarannya.
Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.(An-Nisa:120)
Wahai saudaraku, demikianlah keterperdayaan dunia dan angan-angan dari setan telah menyebabkan manusia terperosok ke dalam neraka. Maka senantiasa berdo’alah kepada Allah agar Allah menyelamatkan kita dari jenis keterperdayaan ini.
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah akan suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakanmu, dan jangan pula penipu (setan) memperdayakanmu dari mengingat Allah. (Luqman: 33)

Dan hanya kepada Allah kami memohon pertolongan. Wallahul musta’an.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s