Menghindarkan Diri Dari Keterperdayaan (2)

A’udzubillahi min_as-syaithoni_ar-rojim,
Bismillahirrohmanirrohim…

Wahai saudaraku yang saya cintai karena Allah, sesungguhnya menyelamatkan diri dari keterperdayaan merupakan hal yang sangat sulit. Bisa dikatakan, hampir tak ada seorangpun dari manusia yang tidak tergelincir oleh dunia dan tipu daya setan, kecuali para Nabi dan Rasul serta orang-orang pilihan-Nya. Keterperdayaan itu muncul dalam beraneka rupa jenis dan bentuknya. Di antara jenis keterperdayaan yang paling banyak menimpa manusia ialah terperdaya oleh kesenangan dunia. Dan seperti yang telah saya terangkan dalam tulisan sebelumnya, bahwa orang-orang yang masuk dalam keterperdayaan ini adalah mereka yang kafir dan sangat lemah imannya kepada Allah. Sedangkan di atas mereka terdapat golongan-golongan yang lebih baik dengan ujian keterperdayaan yang berbeda. Dan jenis keterperdayaan ini adalah terperdaya oleh amal ibadah.

Bagaimana mungkin seseorang terperdaya oleh amal ibadahnya sendiri? Bukankah ibadah itu adalah kebaikan yang bertolak belakang dengan kesenangan dunia?

Baiklah wahai saudaraku, saya akan menerangkan kepada Anda (saya berlindung kepada Allah dari kekhilafan yang mungkin saya perbuat dan belum sesuainya ucapan dan perbuatan saya) tentang makna keterperdayaan terhadap amal ibadah. Sesungguhnya keterperdayaan ini menimpa banyak sekali umat Islam di manapun ia berada, dan tidak peduli setinggi apapun tingkatan ilmu dan imannya karena jenis keterperdayaan ini begitu halus sehingga banyak orang yang tidak menyadarinya. Ia menjangkiti orang yang beriman seperti berjangkitnya penyakit menahun yang tidak teridentifikasi kecuali setelah penyakit tersebut telah kronis. Bahkan banyak di kalangan orang beriman yang hidup dengannya setiap hari hingga ia meninggalkan dunia ini bersama keterperdayaan yang telah merenggut semua kebaikan dari amal ibadahnya. Dan sungguh ada di kalangan kaum mu’minin yang merasa dirinya baik-baik saja sementara sebenarnya ia telah terperdaya oleh penyakit yang merusak ini. Mereka akan menyesal di yaumil akhir nanti karena tidak menyangka dirinya berkubang dalam keterperdayaan selama hidup di dunia.

Sesungguhnya pangkal dari keterperdayaan ini adalah merasa cukup dengan amal ibadahnya sehingga ia merasa aman dari azab Allah. Dan segala turunan dari pangkal utama ini sangatlah banyak, bahkan tidak bisa saya perinci satu per satu. Maka dibutuhkan kesungguhan ikhtiar, ketulusan niat, serta keteguhan komitmen dari setiap pribadi kaum mu’minin untuk mengevaluasi dirinya sendiri akan jenis keterperdayaan ini. Semoga Alllah membimbing langkah-langkah kita untuk selamat darinya. Amiin.

Sebagaimana keterperdayaan akan kesenangan dunia, terperdaya oleh amal ibadah juga memiliki level-level sesuai dengan tingkat keimanan setiap orang. Dan di antara level yang paling rendah dari keterperdayaan jenis ini adalah yang dialami oleh orang-orang Islam yang mengerjakan amal ibadah secara lalai. Yang saya maksud dengan orang yang lalai di sini adalah mereka yang mengerjakan sholat terkadang tepat waktu dan berjama’ah di masjid, tapi kebanyakan waktu-waktu sholat mereka tertunda-tunda hingga mendekati masuknya waktu sholat berikutnya dan dikerjakan sendirian. Mereka juga orang-orang yang membaca dan mempelajari Al-Qur’an dalam jumlah yang sangat sedikit dibandingkan waktu yang tersedia dalam satu hari. Terkadang mereka membaca hanya satu halaman Al-Qur’an dalam waktu satu hari dan seringnya mereka tidak membaca Al-Qur’an sama sekali padahal mereka memiliki sedikit waktu luang yang sebenarnya dapat dimanfaatkan. Mereka juga mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, tetapi tidak menjaga diri mereka dari hal-hal yang bisa merusak pahala puasa mereka. Dan masih banyak lagi ciri-ciri orang golongan ini yang saya yakin Anda sudah mengerti maksud saya. Intinya, mereka adalah orang-orang Islam yang tidak meninggalkan amalan ibadah wajib, tetapi mengerjakannya secara minimalis, lalai, atau mungkin lebih tepatnya saya katakan asal-asalan.

Lalu bagaimana dengan mereka yang terkadang meninggalkan sholat, tidak pernah membaca Al-Qur’an, dan terkadang meninggalkan shaum di bulan Ramadhan? Ketahuilah saudaraku, saya tak akan membahas golongan tersebut di sini karena mereka telah tergolong sebagai orang-orang yang terperdaya oleh kehidupan dunia dan telah saya ulas panjang lebar dalam tulisan sebelumnya.

Orang-orang yang lalai merupakan mayoritas dari kaum muslimin yang ada di muka Bumi. Sehingga Anda akan mendapati kebanyakan kaum muslimin adalah mereka yang terperdaya oleh amal ibadah pada level terendah ini. Sesungguhnya kesalahan terbesar yang mereka lakukan adalah merasa cukup dengan sekedar menggugurkan mewajiban. Mereka mengira bahwa mereka akan selamat di dunia dan di akhirat hanya dengan melaksanakan kewajiban yang diperintahkan meskipun pengerjaannya dilakukan secara serampangan. Dan yang lebih buruk lagi adalah mereka merasa tidak ada yang salah dengan kehidupan mereka seperti itu. Mereka tahu bahwa mereka bukanlah orang Islam yang taat tapi mereka sudah merasa cukup dengan itu. Apabila mereka ingat akan hari akhirat, maka mereka hanya ingat sesaat saja dan kemudian melupakannya. Mereka berpikir bahwa perhitungan amal di hari perhitungan amal kelak hanyalah formalitas dan tidak perlu dirisaukan.

Mereka selalu mengira bahwa mereka dapat dengan mudah lolos dari hukuman Allah di akhirat nanti hanya karena telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan menggugurkan kewajiban. Tak ada rasa takut di hatinya kecuali sedikit saja. Bahkan ketika mereka diingatkan akan surga dan neraka pun mereka pasrah dengannya. Mereka berandai-andai bahwa mereka paling hanya dimasukkan sebentar saja ke neraka dan nantinya akan dikeluarkan dan masuk ke dalam surga. Mereka merasa azab Allah di neraka selama puluhan tahun itu hanyalah seperti kesengsaraan di dunia yang segera berlalu dan tidak perlu dirisaukan. Mereka juga tidak terlalu bersemangat mengejar surga Allah karena mereka lebih disibukkan oleh urusan dunia. Na’udzubillahi min dzalik.

Wahai saudaraku, sesungguhnya kekeliruan cara berpikir dan bersikap mereka dalam beragama disebabkan oleh lemahnya iman di dalam diri mereka. Selain itu, keterperdayaan ini disebabkan oleh kurangnya ilmu agama yang mereka miliki sehingga mereka tidak paham akan arti beribadah kepada Allah. Mereka menganggap remeh agamanya sehingga menjadikan agama hanyalah main-main semata. Dan sungguh keterperdayaan ini sangatlah banyak menimpa kaum muslimin. Anda akan melihat golongan ini mengerjakan amalan ibadah tapi juga terus mengerjakan maksiat.

Ibadah yang mereka lakukan hanyalah sekedar ibadah tanpa ada kesungguhan untuk mengerjakannya secara baik dan benar. Anda akan melihat mereka sholat terburu-buru tanpa meresapi setiap bacaan dan gerakannya seperti halnya burung mematuk-matuk makanannya. Kesulitan terbesar bagi mereka dalam beribadah adalah khusyu’. Mereka tidak mengingat Allah dalam setiap sholatnya kecuali hanya sedikit sekali. Selebihnya hanyalah gerakan-gerakan tanpa dimaknai dan bacaan-bacaan tanpa dipahami. Sungguh mereka lalai dalam mengerjakan ibadahnya tetapi mengira bahwa ibadahnya yang sedikit dan tanpa disertai kekhusyu’an itu mampu menyelamatkan mereka nanti di akhirat. Mereka adalah contoh sempurna dari orang yang terperdaya oleh amal ibadahnya sendiri.
Wahai saudaraku, sungguh saya khawatir bahwa orang-orang yang berada dalam golongan itu sangat rawan untuk jatuh ke dalam keterperdayaan akan kesenangan dunia yang lebih hina. Hal ini disebabkan mereka sering sekali mencampuradukkan kebaikan dan keburukan. Mereka akan dengan mudahnya meninggalkan sholat jika menemui keadaan yang berat. Mereka dengan mudahnya meninggalkan agama ini seperti anak panah meninggalkan busurnya. Mereka tidaklah masuk ke dalam agama ini kecuali berada di tepiannya saja seperti orang yang meniti jalanan di pinggir jurang. Padahal Allah telah memerintahkan manusia agar masuk ke dalam Islam secara totalitas (kaffah).
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.(Al-Hajj:11)
Maka berhati-hatilah wahai saudaraku. Mulai saat ini, perbaikilah setiap amal ibadah Anda sekecil apapun ibadah tersebut. Jangan mudah puas dengan amal ibadah yang sedikit dan tidak khusyu’. Sering-seringlah mohon ampun kepada Allah dan mohon pertolongan kepada-Nya agar Ia meneguhkan keimanan Anda dan memperbaiki kualitas ibadah Anda.
Dan demikianlah keadaan orang-orang yang terperdaya akan amal ibadahnya berada pada tingkatan yang terendah. Di atas mereka terdapat beberapa tingkatan sesuai dengan kadar keimanannya yang berbeda-beda. Saya akan membaginya sesuai dengan jenis yang paling umum ada di tengah-tengah ummat ini. Sebagian besar lainnya bisa jadi tidak ada di antara yang akan saya terangkan atau malah kombinasi dari beberapa golongan tersebut. Dan Anda seharusnya lebih mengetahui pada golongan mana Anda berada sebagaimana saya lebih mengetahui dalam golongan mana saya berada. Ada baiknya Anda merasa berada di antara setiap golongan tersebut daripada Anda merasa aman darinya. Begitulah para sholihin menilai dirinya selalu lebih buruk dari anggapan orang lain. Berbeda dengan orang fasik yang biasanya akan menganggap dirinya lebih baik dari apa yang sebenarnya ada pada dirinya sehingga ia semakin terjerumus di dalam keburukan.
Keterperdayaan Ahli Ibadah
Jika Anda telah mengetahui bahwasannya sebagian besar kaum muslimin adalah mereka yang lalai dalam ibadahnya, maka ketahuilah bahwa sebagian di antara kaum muslimin ada yang taat kepada Allah dan rajin mengerjakan ibadah. Mereka adalah orang-orang yang mendirikan sholat berjama’ah di masjid dan mengerjakannya tepat pada waktunya. Bahkan mereka telah berada di masjid sebelum azan berkumandang sehingga mereka kerap mengumandangkan azan. Mereka tidak hanya mengerjakan puasa di bulan Ramadhan tapi juga menambahnya dengan mengerjakan berbagai macam puasa sunnah. Mereka juga rajin mengerjakan sholat dhuha dan sholat malam sehingga jidatnya tampak hitam karena banyaknya sujud kepada Allah. Mereka membaca zikir dengan banyak dan terlihat khusyu’ setiap kali membacanya. Mereka lebih sering berada di masjid daripada di tempat lain.
Lalu apa yang membuat mereka menjadi masuk ke dalam golongan orang-orang yang terperdaya? Bukankah mereka adalah golongan kekasih Allah karena banyaknya amal yang mereka kerjakan?
Wahai saudaraku, ketahuilah sesungguhnya banyaknya amal ibadah seseorang tidak selalu menandakan ketinggian derajatnya di sisi Allah. Dan banyak sekali di antara golongan ini yang terperdaya oleh jumlah ibadah yang mereka kerjakan. Mereka menghitung-hitung amalan mereka sehari-hari dan menganggap bahwa amal ibadahnya sudah banyak sehingga ia akan dengan mudah masuk ke dalam surga. Sebagian dari mereka lupa bahwasannya kuantitas amal tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kualitas yang baik. Salah satu sumber keterperdayaan mereka akan amalnya adalah kurangnya ilmu agama yang mereka miliki. Sebagian orang mungkin bertanya, “Bagaimana mungkin seorang ahli ibadah masih dikatakan kurang memiliki ilmu agama yang cukup?”.
Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa sebagian kaum muslimin memiliki semangat ibadah yang besar tapi tidak memiliki kapasitas ilmu yang cukup. Mereka mengerjakan ibadah tanpa disertai ilmu sehingga sebagian amalnya tertolak di sisi Allah. Sesungguhnya amal ibadah seseorang diterima di sisi Allah jika memenuhi dua syarat pokok, yaitu dikerjakan dengan ikhlas dan dikerjakan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Barangsiapa yang mengerjakan amal ibadah tanpa disertai salah satu dari keduanya maka ibadah tersebut akan tertolak. Itulah sebabnya mengapa sangat penting bagi kaum muslimin untuk terus selalu menuntut ilmu agama dan memperluas ilmu agamanya. Dan sebagian ahli ibadah tertipu oleh banyaknya amal ibadah karena mereka tidak mendasarkan ibadahnya pada ilmu.
Lalu bagaimana jika seorang ahli ibadah telah mengerjakan ibadahnya dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasul? Sesungguhnya ia masih belum aman jika ia tidak menyertai amal ibadah mahdhoh-nya tanpa memperbaiki akhlaknya kepada manusia. Wahai saudaraku, sesungguhnya agama ini bukan hanya sholat dan puasa. Agama ini berdiri di atas ibadah sebagaimana akidah dan juga akhlak. Dan tidaklah dikatakan seseorang sebagai orang yang sholeh di mata Allah meskipun Anda melihatnya setiap hari mondar-mandir ke masjid setiap azan berkumandang. Tidak ada yang menjamin bahwa orang yang menggunakan gamis dan jidatnya hitam adalah seorang ahli surga. Tidak wahai saudaraku, sesungguhnya agama ini lebih dari sekedar ibadah sholat, puasa, zakat, dan haji.
Jika saya banyak menyampaikan ciri-ciri keshalehan seorang mu’min dengan keadaan sholatnya karena memang sholat adalah tiang agama ini yang menjadi barometer paling minim dalam menilai keimanan seseorang. Namun, ia sama sekali belum merepresentasikan keseluruhan keimanan seorang mu’min. Jika sholat seseorang saja sudah tidak benar dan penuh dengan cacat maka sudah dapat dipastikan bahwa keimanannya dan amal ibadah lainnya juga tidak benar. Tetapi tidak selalu orang yang sholatnya rajin maka keimanannya sudah baik. Bukankah para pendusta agama adalah orang suka mendirikan sholat?
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim,dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat,(yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya,orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.(Al-Ma’un:1-7)
Ya, para pendusta agama ini adalah orang yang suka mendirikan sholat, tetapi tidak mendirikan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupannya. Dan ini menjadi salah satu jenis keterperdayaan yang banyak menimpa para ahli ibadah. Sungguh kita patut berlindung kepada Allah agar tidak terperdaya oleh keadaan seperti ini. Yakni keadaan di mana seseorang mengira banyaknya amal ibadah sudah cukup mengantarkannya meraih keridhoan Allah tanpa disertai dengan kualitas yang mencukupi. Maka kita harus selalu berintrospeksi atas amal-amal yang kita kerjakan apakah telah sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW atau belum. Dan kita juga harus mengiringi banyaknya amal ibadah dengan menegakkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari saat bermuamalah kepada manusia.
Keterperdayaan Ahli Tarekat
Dan di antara kaum muslimin ada sebagian orang yang memiliki kepekaan spiritual yang tinggi sehingga mereka mengerjakan ibadah dengan penuh kekhusyu’an kepada Allah. Mereka tenggelam dalam zikir-zikir mereka hingga merasakan apa yang tak dapat dirasakan oleh ahli ibadah. Jiwa mereka tenang seperti telaga yang tak terusik. Anda akan mendapati mereka sebagai orang yang sangat zuhud kepada dunia. Mereka meninggalkan dunia ini agar dapat meraih maqam (kedudukan) yang tinggi di sisi Allah. Wajah mereka teduh karena basah oleh air mata yang tercurah setiap saat. Hati mereka begitu lembut sehingga dapat menangis setiap kali nama Kekasih mereka disebut. Tidak jarang mereka pingsan jika dibacakan ayat Al-Qur’an atau diingatkan akan kehidupan akhirat.Mereka sungguh telah mencapai apa yang tidak pernah dicapai oleh kebanyakan manusia.
Bila Anda menawarkan harta kepada mereka maka mereka tidak akan tertarik sedikitpun. Mereka bertawakal kepada Allah dengan penuh keyakinan dan kepasrahan sehingga tidak penah takut akan kekurangan rizki. Tujuan mereka hanya satu, yakni mendapatkan keridhoan Allah. Bahkan mereka rela masuk ke dalam neraka dan dijauhkan dari surga demi melihat Wajah Allah. Sesungguhnya mereka memiliki banyak maqam yang masing-masing menandakan keutamaan dan tingkat pencapaian seorang hamba. Maqam tertinggi dari pencapaian mereka adalah ma’rifat, yakni mengenal Allah hingga tersibak segala hal yang tak dapat dicapai oleh indera manusia. Mereka menyebut diri mereka sebagai as-salikin, para penempuh jalan. Jalan yang mereka maksud adalah jalan tarekat sufi yang penuh dengan ujian spiritual.
Lalu apa yang membuat mereka sebagai orang yang terperdaya? Bukankah mereka sudah bebas dari belenggu kehidupan dunia sehingga tenggelam dalam kecintaannya kepada Allah? Bukankah mereka sudah mencapai maqam yang sangat tinggi sehingga meninggalkan dunia dan segala isinya meskipun jalan untuk itu telah dibentangkan kepada mereka?
Wahai saudaraku, sesungguhya di antara keterperdayaan yang dapat menimpa saudara-saudara kita para penempuh jalan spiritual ini adalah tindakan yang berlebihan dalam satu sisi agama dan meninggalkan sisi yang lain. Dan seperti halnya kebanyakan golongan terperdaya yang lain, keterperdayaan mereka lebih disebabkan oleh kurangnya ilmu agama yang mereka miliki. Mereka hanya tenggelam dalam spiritualisme keagamaan tapi melalaikan banyak aspek dalam kehidupan agama lainnya. Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya agama ini adalah zikir dan jihad, sholat dan zakat, haji dan da’wah, serta puasa dan sedekah. Agama ini berdiri di atas nilai-nilai yang lengkap dan tidak terpisah-pisahkan satu sama lain. Dan tidaklah mereka terperdaya kecuali jika mereka bersikap acuh akan sisi agama yang lain dan hanya menyibukkan diri di masjid-masjid dan megurung diri mereka di dalam kamar. Dan kita mengenal keadaan seperti ini sebagai rahbaniyah. Tahukah Anda apakah rahbaniyah itu? Rahbaniyah adalah tindakan memisahkan diri dari kehidupan dunia demi berbakti kepada tuhan semata. Sesungguhnya rahbaniyah itu hanya ada pada agama-agama di luar Islam dan Islam sama sekali tidak mengenal rahbaniyah. Maka janganlah Anda berpikir menjadi seorang rahib, karena dalam agama ini tindakan kerahiban adalah dengan berjihad.
Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhoan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.(Al-Hadid:27)
“Bertakwalah kepada Allah karena itu adalah kumpulan segala kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah karena itu adalah kerahiban kaum muslimin, dan berzikirlah kepada Allah serta membaca kitabNya karena itu adalah cahaya bagimu di dunia dan ketinggian sebutan bagimu di langit. Kuncilah lidah kecuali untuk segala hal yang baik. Dengan demikian kamu dapat mengalahkan setan.” (HR. Ath-Thabrani)
Dan itu adalah jenis keterperdayaan bagi golongan ini. Sekali lagi, pangkal dari keterperdayaan ini adalah terlalu yakinnya mereka akan amal ibadah mereka sehingga mereka mengira bahwasannya mencapai puncak kecintaan kepada Allah dengan pencapaian spiritual mereka sudah cukup mengantarkan mereka ke dalam cinta Allah. Namun sungguh wahai saudaraku, yang paling saya takutkan dari mereka bukanlah keterperdayaan seperti itu. Yang saya khawatirkan adalah mereka terperdaya oleh kebiasaan dan dunia sufi mereka sehingga mereka mengada-adakan istilah dan maqam-maqam yang tidak pernah dikenal sebelumnya oleh para salafus sholeh. Mereka membuat-buat sesuatu yang bahkan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.
Hal ini disebabkan sebagian mereka yang telah berusaha sedemikian sulitnya menempuh jalan spiritual dan meninggalkan dunia merasa telah berada di maqam yang sangat tinggi. Sebagian mereka berusaha untuk dapat mengenal Allah hingga tersingkap berbagai hal yang ghoib padahal tidaklah ada orang yang mengaku mengetahui hal yang ghoib kecuali ia adalah bagian dari thoghut. Sehingga Anda akan mendengar sebagian mereka mengaku telah melihat Allah. Sebagian lagi mengaku bertemu dengan Nabi Khidr dan menjadikan itu sebagai bagian dari pencapaian maqam tertentu. Mereka mengaku tidak lagi membutuhkan dunia sehingga mereka ada yang mengatakan tidak pernah makan selama satu tahun. Sebagian lainnya mengatakan mampu melihat masa depan melalui mimpi karena Allah telah menyingkapkan hal-hal yang ghoib kepada mereka. Dan ada banyak sekali kisah-kisah sesat dan menyesatkan dari kalangan ahli tarekat karena mereka tertipu oleh amal ibadah mereka sendiri. Sungguh wahai saudaraku, yang demikian itu tidaklah ada dalam Islam maka janganlah sampai Anda terperdaya karenanya.
Oleh karena itu sekali lagi saya ingatkan kepada Anda untuk selalu berusaha meningkatkan ilmu agama Islam. Kenalilah agama ini dan berusahalah untuk mengenalnya lebih dalam lagi. Mohonlah kepada Allah agar ia memberikan kenikmatan beribadah dan menajamkan mata hati Anda agar Anda dapat merasakan kenikmatan spiritual tanpa harus meninggalkan ajaran agama yang benar. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayahNya kepada kita semua yang selalu bersungguh-sungguh dalam beramal.Amiin.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s