Menghindarkan Diri Dari Keterperdayaan (3)

Segala puja dan puji hanya milik Allah SWT. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW.

Alhamdulillah, setelah beberapa lama penulis tidak pernah menambah daftar tulisannya di blog ini, akhirnya Allah kembali mengizinkan saya untuk kembali menulis, berbagi ilmu dan hikmah di sini. Kesibukan yang saya alami beberapa waktu terakhir membuat semuanya jadi bertambah sulit. Saya harus bepergian ke luar kota dan mengurus segala macam pekerjaan yang menyita tenaga dan waktu sehingga kegiatan menulis yang biasanya saya lakukan di malam hari terasa begitu berat karena kelelahan. Sulitnya akses internet di beberapa daerah yang saya kunjungi juga membuat aktivitas menulis yang biasanya langsung saya lakukan di blog secara online menjadi terhambat. Belum lagi kondisi kesehatan saya yang memburuk dalam beberapa hari terakhir membuat saya tak bisa terjaga dalam waktu lama di malam hari karena keharusan untuk beristirahat yang cukup untuk mempercepat pemulihan. Maka menjadi suatu karunia yang sangat besar bagi saya untuk dapat melanjutkan apa yang belum saya tuntaskan di sini. Alhamdulillah.

Saya akan melanjutkan tulisan terakhir mengenai ghurur atau keterperdayaan yang telah bersambung menjadi dua seri di dua tulisan sebelum ini. Sebenarnya saya ingin membuatnya dua seri saja pada awalnya, tetapi karena jeda vakum yang cukup lama dan masih banyaknya hal yang harus disampaikan maka saya memutuskan untuk membuat sambungannya dalam seri yang ketiga kali ini. Dan pada tulisan ini saya akan menyampaikan jenis keterperdayaan yang menimpa orang-orang terpilih dari golongan kaum mu’minin. Tulisan ini menambah daftar golongan yang terperdaya oleh amalnya sendiri seperti halnya dua golongan yang sudah diuraikan dalam seri sebelumnya.

Keterperdayaan Ahli Ilmu

Wahai saudaraku, ketahuilah sesungguhnya kebanyakan kaum muslimin di dunia ini adalah orang-orang yang bodoh terhadap agamanya. Mereka mengucapkan dua kalimat syahadat, tapi tidak benar-benar memahami arti dan meresapi maknanya. Kebodohan mereka telah menyebabkan mereka berkubang dalam dosa tanpa pernah menyadari perbuatan itu sebagai dosa. Kebodohan mereka juga menyebabkan kaum muslimin menjadi sasaran permainan orang-orang kafir sehingga dengan mudahnya kaum muslimin dihinakan. Dan semuanya itu bermula dari kebodohan mereka sendiri yang tidak mau mendalami agamanya. Maka perhatikanlah orang-orang di sekeliling Anda dan akan Anda temui bahwa kebanyakan mereka tidak benar-benar memahami agama ini meskipun mereka mengaku sebagai muslim.

Kebanyakan dari mereka tidak mengetahui apa keutamaan sholat berjama’ah di masjid bagi laki-laki sehingga dengan mudahnya mereka meninggalkan kewajiban tersebut. Mereka makan dan minum dengan tangan kiri seolah-olah tak ada ajaran Islam yang melarang hal tersebut. Mereka hidup bertahun-tahun dengan penghasilan yang banyak tanpa pernah mengeluarkan zakat sedikitpun karena mereka tak tahu mengenai kewajiban zakat. Kaum wanitanya mengenakan jilbab tapi mengenakan pakaian ketat seolah-olah dengan menutupi kepala mereka maka telah gugurlah kewajiban menutup aurat. Perhatikanlah wahai saudaraku, bahkan untuk hal-hal mendasar seperti itu saja banyak dari kalangan kaum muslimin yang tidak mengetahuinya, apalagi untuk hal-hal yang lebih dalam dan lebih jauh menyentuh substansi ajaran Islam. Dan jangan Anda berpikir untuk menanyakan mengenai makna ayat-ayat dalam Al-Qur’an karena mereka tak pernah membacanya. Jangan pula Anda meminta mereka menerangkan hadits-hadits Rasulullah SAW karena mereka tak tahu sama sekali tentangnya. Dan amat bodohlah kebanyakan kaum muslimin karena kelalaian mereka sendiri.

Kebodohan kaum muslimin pada saat ini sudah sangat jamak dan sangat parah. Kebodohan yang membuat mereka tak tahu lagi makna agama ini dan tak lagi dapat membedakan mana yang benar dan yang salah. Kebodohan itu telah menyeret mereka dalam kesesatan dan membuat mereka terombang-ambing dalam kegalauan tentang agama mereka sendiri. Hal ini menyebabkan mereka mencari figur yang mereka pikir paham mengenai agama sehingga dapat mereka jadikan rujukan sebagai tempat bertanya. Lalu mereka melihat ada orang-orang yang sehari-harinya mengenakan peci atau kopyah, berjenggot lebat atau mengenakan gamis dan surban, kemudian mereka akan memanggilnya dengan sebutan ustadz. Dan kepada merekalah orang-orang akan bertanya segala hal tentang agama dan menjadikan mereka sebagai imam sholat mereka. Padahal tidak semua orang yang mengenakan atribut-atribut agama adalah ulama yang paham mengenai agama ini.

Namun kebodohan telah menutupi akal sehat kebanyakan orang Islam sehingga mereka menyamakan ahli ibadah dan ahli ilmu. Tidakkah mereka tahu bahwa ada sebagian ahli ibadah yang rajin ke masjid dan sholat berjama’ah di sana, tetapi bahkan bacaan Al-Qur’an mereka banyak yang salah? Tidakkah mereka tahu bahwa sebagian imam sholat mereka yang memiliki suara merdu dan lagu yang indah ternyata membacakan Al-Qur’an dengan tajwid yang kacau? Wahai saudaraku, sesungguhnya saya tidak bermaksud merendahkan keutamaan orang-orang yang bersemangat dalam agamanya meskipun tidak memiliki ilmu yang cukup. Dan saya berlindung kepada Allah dari menilai kedudukan seseorang di sisi Allah dengan hanya melihat aspek lahiriyahnya saja. Sesungguhnya setiap orang memiliki keutamaan yang berbeda di sisi Allah sesuai dengan kehendak-Nya dan hanya Ia yang mengetahui dan berhak menilai seseorang berada di surga atau nereka. Namun perlu Anda ketahui bahwa tidak semua ahli ibadah itu adalah ahli ilmu sebagaimana halnya tidak semua ahli ilmu adalah seorang ahli ibadah.

Yang saya maksud ahli ilmu di sini adalah orang yang mengenal agama ini sebagaimana ia mengenal anak, istri, saudara dan saudari kandung mereka sendiri. Ahli ilmu adalah orang yang mengetahui makna agama ini dan banyak mengetahui kaidah-kaidah, ajaran-ajaran, hukum serta prinsip dalam agama ini. Mereka mengetahuinya karena ketekunan mereka dalam mepelajari agama serta berkat anugerah Allah berupa kecerdasan sehingga mereka mampu menangkap isyarat dan memahami pola serta hakikat yang terkandung di dalamnya. Sesungguhnya jumlah mereka sangatlah sedikit dibandingkan jumlah kaum muslimin secara keseluruhan. Dan tingkatan mereka berbeda-beda sesuai dengan kadar keilmuan yang mereka miliki.

Wahai saudaraku, sesungguhnya para ahli ilmu adalah golongan yang mendapatkan keberuntungan yang besar dan keutamaan di sisi Allah. Allah mengangkat derajat mereka kepada derajat yang tinggi melebihi kebanyakan manusia dan kaum muslimin.
…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Al Mujadilah:11)
Sesungguhnya ilmu mereka akan menjaga mereka dari melakukan kekeliuran yang fatal dalam bertindak dan dalam beribadah. Ilmu mereka juga akan menuntun mereka menjalani kehidupan di dunia ini di bawah cahaya yang terang sehingga mereka tidak dengan mudah terperosok karena segala sesuatunya terlihat jelas bagi mereka.
Lalu apa yang menyebabkan golongan ini menjadi bagian dari orang yang terperdaya? Bukankah mereka adalah orang-orang yang akan menunjuki jalan kebaikan bagi kaum muslimin? Bukankah ilmu yang mereka miliki akan menjaga mereka sehingga mereka terlepas dari kesalahan?

Tidak wahai saudaraku, sesungguhnya banyak sekali di kalangan ahli ilmu yang memahami segala sesuatu, tetapi merasa berat dalam menjalankannya. Mereka melihat jalanan kehidupan seperti seseorang yang melintasi jalanan di siang hari yang terik sehingga tampak jelas bagi mereka mana bagian jalan yang rusak dan mana bagian jalan yang aman dilewati. Namun mereka masih tergoda oleh kesenangan dunia yang menghiasi jalan-jalan yang rusak sehingga mereka sengaja menceburkan diri mereka ke dalamnya. Sebagian dari mereka memanfaatkan pengetahuannya dan sikap tunduk kaum muslimin untuk memperoleh keuntungan pribadi. Sebagian menjual ilmu yang mereka miliki dengan harga yang sedikit berupa kesenangan duniawi. Sebagian lainnya menjadikan agama mereka sebagai bahan percobaan dan objek penelitian semata tanpa pernah berusaha untuk mengamalkannya.

Dan demikianlah keadaan sebagian ahli ilmu. Mereka adalah ahli ilmu, tetapi sama sekali bukanlah ahli ibadah. Mereka tidak pernah menggunakan ilmunya untuk diamalkan oleh diri mereka sendiri sehingga mereka laksana pohon yang tidak berbuah. Mereka memiliki keutamaan tapi mereka menyia-nyiakannya. Keadaan mereka tidaklah lebih baik dari orang-orang bodoh yang terperdaya oleh kesenangan dunia. Hawa nafsu mereka menyebabkan ilmu mereka tidak berguna dalam membentengi mereka dari bersikap buruk. Ahli ilmu jenis ini adalah seburuk-buruknya golongan yang terperdaya di kalangan kaum terdidik. Mereka akan menyembunyikan kebenaran dan mengada-adakan keburukan demi memperoleh keuntungan pribadi. Mereka tidak akan segan memanfaatkan kebodohan kaum muslimin untuk kepentingan dirinya sendiri. Sudah jelaslah bagi kita bahwa golongan ahli ilmu seperti ini termasuk golongan yang terperdaya oleh kesenangan dunia.

Namun bukanlah golongan itu yang akan saya tekankan pada pembahasan kali ini. Ahli ilmu yang terperdaya oleh amal mereka sendiri adalah mereka yang sering berda’wah kepada masyarakat, sering mengajarkan ilmu kepada orang banyak, sering memberikan tausiyah dan nasihat kepada orang lain, lalu mereka mengira bahwa ilmu yang mereka ajarkan kepada orang lain itu sudah cukup mengantarkan mereka ke surga Allah. Kemudian mereka menjadi malas beribadah jika tak ada orang yang melihatnya. Mereka menjadikan ilmu yang mereka miliki serta kedudukan mereka di masyarakat sebagai tameng bagi amal sholehnya di hadapan Allah. Ilmu yang banyak mereka miliki itu membuat mereka terlena sehingga mereka sendiri lebih sibuk mengajarkan orang tapi melupakan keadaan dirinya sendiri. Mereka ibarat lilin yang dinyalakan, menerangi sekitarnya, tetapi membakar dirinya sendiri.

Mereka adalah golongan ahli ilmu yang terperdaya oleh ilmu mereka sendiri. Bagi golongan ini, maka keadaan mereka sunguh sangat rawan karena dapat menjerumuskan mereka pada sikap takabbur dan riya’. Mereka sering merasa lebih pandai dari orang lain sehingga menganggap amaliahnya yang sedikit itu jauh lebih baik daripada amalan ahli ibadah. Sikap ini akan mendorong mereka menjadi tumpul dan tak pernah melihat keadaan ruhani mereka sendiri. Tak jarang mereka menjadi sangat sibuk dengan kegiatan ceramah dan silau akan pujian dari orang-orang. Akhirnya mereka hanya mendalami ilmu dan menambah wawasan untuk keperluan ceramah saja. Sebagiannya bahkan menjadi sibuk dengan mengumpulkan ungkapan-ungkapan atau lelucon-lelucon agar pembicaraannya tampak menarik orang banyak dan pengikutnya bertambah.

Sungguh, keadaan keterperdayaan seperti itu sangatlah berbahaya bagi para ahli lmu itu sendiri dan bagi kebanyakan kaum muslimin. Kita berlindung kepada Allah agar Ia berkenan memberikan kita para ahli ilmu yang juga fokus akan perbaikan diri mereka sendiri. Kita berharap bahwa Allah akan menurunkan pada kita orang-orang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu Allah dengan benar seraya mengamalkan ilmunya tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dan sungguh wahai saudaraku, ilmu itu tak akan pernah mencapai keridlo’an Allah jika tak pernah diamalkan. Yang akan menjadi bekal bagi setiap orang saat menghadap Allah adalah ketakwaan. Dan ketakwaan itu adalah buah dari ilmu dan amal yang kontinyu serta istiqomah.

Maka ahli ilmu yang beramal itulah yang disebut sebagai ulama amilin. Mereka adalah pelita di tengah kegelapan, tempat bertanya segala permasalahan, dan menjadi imam yang benar dalam kehidupan. Mereka itulah para pewaris nabi.
“Seungguhnya ulama adalah pewaris nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Maka barang siapa yang mengambil warisan tersebut sungguh ia telah mengambil bagian yang sempurna” (HR Trmudzi dan Ibnu Majah)

Para ulama inilah orang-orang yang benar-benar bertakwa kepada Allah. Mereka adalah orang yang berkat ilmu yang mereka miliki menjadi sangat berhati-hati dalam bertindak. Mereka sungguh takut kepada Allah bahkan mereka adalah orang yang paling besar rasa takutnya kepada Allah dibandingkan golongan yang lain.
…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun.(Fathir:28)

Wahai saudaraku, berdo’alah selalu agar Ia menjadikanmu sebagai orang yang memahami agama ini dengan sempurna. Karena hanya dengan ilmu dan amal sholeh maka Anda dapat menjadi hamba Allah yang baik. Dan ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya hanya melalui ilmu sajalah, kebaikan akan datang kepada Anda.
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan bagi dirinya, maka Allah jadikan ia paham akan ilmu agama” (HR. Bukhori dan Muslim)

Keterperdayaan Ahli Jihad

Wahai saudaraku, ketahuilah, sesungguhnya di kalangan kaum muslimin ada orang-orang yang mengorbankan waktu, harta, bahkan hidup mereka di jalan perjuangan demi menegakkan agama Allah. Hidup mereka berselimutkan debu perjuangan hingga hampir-hampir tak mengenal kenyamanan hidup dunia kecuali hanya sedikit. Mereka berjalan menyusuri jalanan becek dan terjal setiap harinya dengan suasana penuh waspada dan terkadang dicekam ketakutan. Mereka berkawan dengan teriknya matahari dan dinginnya udara malam. Mereka tidur di atas batu, sholat di atas pasir dan rerumputan, serta makan seadanya. Mereka melakukan itu bukan karena mereka miskin sehingga hidup menggelandang. Mereka melakukan itu semua karena perjuangan di jalan Allah yang sangat berat sehingga meninggalkan harta dan keluarga mereka. Mereka adalah para mujahidin yang berperang maupun berjaga-jaga di perbatasan demi menjaga tegaknya agama Allah di muka Bumi.

Ada juga sebagian kaum muslimin yang berada di bawah level mujahidin, tetapi kesungguhan mereka dalam berjuang menjegakkan kebenaran dan amar ma’ruf nahi mungkar sangatlah tinggi. Meskipun usaha mereka belum layak disebut jihad, tetapi mereka juga banyak mengorbankan waktu dan harta mereka dalam setiap aktivitas da’wahnya. Mereka menolong orang-orang dan mengajak orang kepada kebaikan melalui yayasan dan organisasi lainnya. Mereka sangat sibuk dengan aktivitas-aktivitas kebaikan hingga seringkali meninggalkan sanak keluarganya.

Kedua jenis golongan yang saya sebutkan tersebut merupakan orang-orang yang sangat tinggi loyalitas dan pengorbanannya di dalam perjuangan Islam. Mereka mengisi waktu-waktu mereka setiap harinya dengan kesibukan amal-amal jihad dan da’wah sehingga seringkali jauh dari keluarganya. Mereka sangat sibuk sehingga Anda akan mengira mereka tak pernah memiliki kesibukan selain itu. Sungguh, mereka adalah ‘amaliyyin yang terus menerus beramal sholeh. Bahkan, pahala mujahid yang berjaga-jaga (ribath) di perbatasan wilayah kaum muslimin selama satu jam lebih baik dari amalan ahli ibadah atau pengajaran ahli ilmu selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan. Mereka adalah makhluk yang sangat mulia di sisi Allah karena kesiapannya di dalam amal perjuangan Islam dan pengorbanannya yang sangat besar.

Tahukah Anda siapakah mereka itu? Mereka adalah para mujahidin yang telah merelakan hidup dan matinya di jalan perjuangan demi menegakkan agama ini. Sungguh, mereka adalah semulia-mulianya manusia di muka bumi. Tidak ada lagi kebaikan yang pantas mereka dapatkan sebagai balasan atas amal mereka kecuali surga Allah. Bahkan Allah dan Rasulnya sendiri yang menjamin bahwa para mujahidin akan langsung diganjar dengan balasan surga jika ia gugur sebagai syuhada. Tak ada yang menghalangi seorang syuhada dari surga Allah kecuali hutang yang masih ia sisakan di dunia. Maka jika seorang syuhada tidak memiliki hutang atau tanggungan apapun kepada orang lain, insya Allah ia sudah dijamin langsung dimasukkan ke dalam surga.

Lalu, apa yang menyebabkan masih ada di antara mereka yang tergolong sebagai orang yang terperdaya? Bagaimana mungkin orang yang sudah dijamin masuk surga masih dapat terperdaya oleh kehidupan selain itu? Sungguh wahai saudaraku, yang terperdaya di antara para mujahidin hanyalah mereka yang beramal tanpa dilandasi semangat perjuangan semata-mata untuk menegakkan agama Allah. Sesungguhnya di antara para pejuang Islam, ada orang-orang yang dalam hatinya diliputi ambisi akan kekuasaan dan popularitas. Terkadang, rasa semacam itu tidaklah tampak nyata dalam keseharian mereka dan begitu samar-samar hingga mereka tak menyadarinya. Padahal, keadaan seperti itu sangatlah rawan dan berbahaya bagi para mujahidin sehingga mereka menempatkan diri mereka dalam syubhat yang menjerumuskan.

Medan pertempuran dan perjuangan di dunia ini sangatlah berat dan menantang. Terkadang, kerasnya perjuangan kaum muslimin dalam berbagai medan tersebut menyebabkan sebagian dari mereka tidak lagi memandang perjuangan ini sebagai suatu jihad fi sabilillah, tetapi malah terjebak dalam api permusuhan sektarian dan pembalasan dendam. Sebagian mujahidin dapat mengalami penyimpangan orientasi perjuangan sehingga ada yang terjebak pada fanatisme kelompok (hizbiyah) atau fanatisme bangsa dan ras (‘ashobiyah). Padahal perjuangan menegakkan agama Allah tidak boleh dikotori oleh rasa fanatisme seperti itu dan sudah seharusnya dimurnikan semata-mata untuk menegakkan kalimat tauhid. Maka kemudian Anda akan melihat sebagian kaum muslimin yang menempuh jalan jihad melakukan kerusakan dalam amaliahnya. Mereka memiliki pemahaman yang dangkal terhadap visi dakwah dan jihad, tetapi memiliki semangat perjuangan yang berkobar-kobar. Akibatnya, sebagian dari kaum muslimin ini sengaja dimanfaatkan oleh orang-orang kafir untuk memenuhi tujuan kaum kafir.

Demikianlah, sangat disayangkan sebagain kaum muslimin yang memiliki semangat perjuangan yang besar, tetapi kurang memiliki ilmu dan hikmah yang baik sehingga menjadi terperdaya oleh amalnya sendiri. Mereka mengira bahwa mereka melakukan jihad fi sabilillah dan gugur sebagai syuhada sementara mereka sebenarnya berada dalam konspirasi kaum kufar. Hal ini disebabkan mereka tidak memahami seluk-beluk kelompok mereka dengan baik dan bagaimana konstelasi pergerakan Islam maupun konspirasi asing. Mereka hanya berbekal semangat melakukan aksi isytisyhadah tanpa bekal pemahaman yang benar sehingga amalnya ditunggangi oleh kepentingan golongan-golongan yang justru membenci Islam.

Sementara sebagian kaum muslimin yang berjuang di suatu pergerakan Islam atau orgnisasi perjuangan Islam tenggelam dalam sikap fanatisme yang berlebihan terhadap golongannya. Mereka memang pejuang yang tangguh dan tak kenal lelah, tetapi mereka memiliki pemahaman yang keliru akan amal-amal dakwah dan jihadnya karena mereka meyakini bahwa satu-satunya jalan perjuangan yang benar hanyalah jalan yang mereka tempuh dalam organisasinya. Kemudian mereka lebih sibuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi dan lupa mengembalikannya pada tujuan dakwah Islam yang utama. Mereka berusaha keras siang-malam merekrut anggota baru untuk dididik menjadi kader organisasinya. Dan jika ada organisasi lain yang juga sama-sama bercita-cita untuk menegakkan Islam maka mereka menjadi merasa tersaingi. Mereka tidak suka jika orang-orang bergabung bersama organisasi lain dan tidak menjadi kader organisasinya. Mereka lupa bahwa tujuan dakwah Islam adalah menyeru orang kepada Allah dan bukan menyeru orang pada organisasi. Maka kaum muslimin yang terjebak dalam orientasi seperti ini maka sungguh mereka adalah orang-orang yang terperdaya.

Jika organisasi pergerakan mereka dikritik oleh seorang ulama atau beberapa orang, maka mereka akan membelanya mati-matian tanpa berusaha mendengarkan nasihat yang diberikan. Padahal, setiap nasihat sudah layaknya didengarkan dan dihargai meskipun itu memerahkan telinga orang yang dinasihati. Hal ini seperti yang sudah saya bahas panjang lebar dalam salah satu tulisan saya yang pertama mengenai pentingnya mendengarkan nasihat. Sungguh wahai saudaraku, saya khawatir sikap fanatisme seperti ini tidak disadari oleh para pejuang pergerakan Islam. Mereka terlalu asyik sibuk dengan perjuangan mereka sehingga menjadi kurang peka terhadap kritik yang membangun dari sesama saudaranya. Sehingga Anda akan melihat banyak di antara golongan-golongan yang sama-sama berbendara Islam tetapi saling hujat-menghujat dan bahkan saling berperang. Kemudian masing-masing pihak mengklaim bahwa mereka sedang melakukan jihad fi sabilillah dan akan gugur sebagai syuhada. Na’udzubillahi min dzalik, yang saya khawatirkan adalah mereka benar-benar menjadi orang-orang yang terperdaya terhadap amal jihad mereka dan tidak mendapatkan apa-apa dari amalnya tersebut kecuali kerugian.

Kita berdo’a kepada Allah semoga Allah mengampuni dosa kaum muslimin dan menunjuki mereka semua ke jalan yang lurus. Semoga saja para pejuang kaum muslimin yang telah gugur dalam memperjuangkan agama ini diampuni dosanya oleh Allah dan dibersihkan dari segala kebodohan dan kekotoran kepentingan golongan sehingga dapat diterima sebagai syuhada. Amiin.

Namun, yang paling saya takutkan ada di antara para pejuang Islam adalah adanya sikap takabur dan riya’ dalam diri seorang mujahid. Sungguh, sikap seperti ini sangatlah tersembunyi dan menjadi tanggung jawab setiap orang sehingga sulit untuk mengantisipasinya. Rasa riya’ dan takabur pada diri seorang mujahid dapat muncul karena mereka merasakan sendiri bagaimana perjalanan jihad ini dipenuhi dengan sikap heroisme dan keberanian. Terkadang amaliyah mereka selama berjuang menjadi tercampur dengan rasa ingin dipuji dan diagungkan sebagai orang yang paling berani dan berjasa. Akibatnya amal-amal tersebut menjadi kecil atau bahkan tidak ada nilainya di mata Allah karena semata hanya ditujukan untuk mendapatkan pujian manusia. Na’udzubillahi min dzalik.

.Orang-orang yang terjebak dalam rasa heroisme semata ini sungguh telah menjadi orang yang terperdaya oleh amal jihad mereka sendiri. Mereka merasa berjuang keras melewati segala macam kesulitan hidup, tapi ternyata tidak mendapatkan balasan kebaikan apapun dari Allah. Mereka tenggelam dalam kesibukan dan bisingnya medan pertempuran tanpa pernah mengevaluasi kualitas niat dari setiap amal mereka. Akibatnya, amal-amal mereka akan rusak nilainya di sisi Allah SWT. Dan sangat disayangkan sekali apa yang mereka terima dari amal mereka yang sudah susah payah tersebut.

“Orang yang akan menjadi pengisi api neraka yang pertama kali adalah tiga orang: seorang ulama, seorang mujahid, dan seorang donator yang dermawan..Dan yang ketiga, ‘Apa yang telah kau kerjakan selama di dunia?’ ‘Aku berperang di jalan-Mu hingga aku terbunuh.’ ‘Kau berbohong. Kau berperang supaya dikatakan bahwa kamu adalah orang yang pemberani, dan itulah yang kau dapatkan, dan kamu telah mendapatkan apa yang kau inginkan di dunia.’ Kemudian akan diperintahkan kepadanya untuk masuk ke dalam neraka.” (HR. Muslim, Ahmad, Turmidzi, Ibnu Hibban)
Demikianlah keadaan orang-orang yang mencari kemuliaan dari pengakuan orang lain tentang kehebatan dirinya di medan perjuangan. Alih-alih mendapatlkan jannah Allah, mereka justru akan dilemparkan oleh Allah ke dalam api neraka disebabkan riya’ yang ada dalam hatinya. Mereka memang akan mendapatkan pujian dari orang banyak. Yang demikian itu karena memang Allah telah berikan kepadanya balasan atas apa yang ia inginkan. Namun, ia tak mendapatkan bagian apapun dari balasan pahalanya. Na’udzubillahi min dzalik..

Wahai saudaraku, sesungguhnya mereka yang benar-benar berjuang di jalan Allah adalah mereka yang memurnikan perjuangannya hanya karena Allah dan untuk kejayaan Islam, bukan organisasi dan bukan pula kejayaan suku bangsanya. Mereka berjihad di jalan Allah dengan mengorbankan seluruh harta dan jiwanya. Mereka juga mendasari setiap langkah perjuangannya dengan ilmu dan cahaya Allah sehingga Allah selalu memandunya melalui jalan yang terjal dan penuh duri. Mereka tak hanya sibuk dengan urusan perjuangannya tapi juga semakin dekat dengan Allah pada setiap langkahnya. Mereka adalah orang yang paling sibuk dengan ibadah. Mata mereka basah dengan air mata taubat, lisan mereka tak pernah berhenti berzikir, hati mereka selalu terjaga. Mereka menyadari betul bahwa jihad fi sabilillah adalah sarana pengabdian sehingga seluruh proses yang dilalui di dalamnya tak dikotori oleh niat lainnya sekecil apapun. Mereka adalah ulama mujahid: ulama yang berjihad dan mujahid yang berilmu.
Mereka itulah sebaik-baiknya makhluk di kolong langit. Mereka adalah imam bagi kaum muslimin, teladan yang tak pernah lekang oleh waktu, nasihat yang tak pernah kering. Mereka selalu dinaungi cahaya Allah. Cahaya di atas cahaya. Kelebihan mereka dibandingkan orang-orang lainnya ibarat bumi dan langit. Sungguh mereka adalah anugerah yang Allah berikan kepada ummat manusia. Hal itu disebabkan mereka telah berjanji untuk mengorbankan seluruh harta dan jiwanya di jalan Allah, dan mereka tidak pernah mengubah-ubah janjinya.
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka sebagian dari mereka ada yang telah gugur, dan sebagian lainnya masih menanti-nanti. Dan mereka tidak mengubah-ubah janjinya. (Al-Ahzab:23)
Wallahu a’lam bisshowab.
Alhamdulillahirobbil ‘alamiin.. Selesai…
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s