Menjaga Keikhlasan Niat

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ‘ala rasulillah..

Entah sudah berapa kali Anda mendengar dan membaca tausiyah tentang ikhlas, karena saya yakin Anda sudah mendengarnya berulang kali sejak Anda masih kecil. Ya, kata ikhlas telah sedemikian familiarnya dengan kaum mu’minin karena ikhlas adalah persoalan pokok dalam agama. Namun demi Allah, sungguh ikhlas adalah perkara yang paling sulit, bahkan bagi para alim ulama sekalipun. Ikhlas adalah beban yang paling berat dalam agama ini sehingga dapat mematahkan seluruh sendi agama pada seseorang.

Dan seandainya Anda diperkenankan untuk meminta nasihat dari orang lain setiap harinya, maka mintalah kepadanya untuk sering memberikan tausiyah tentang keikhlasan. Biarkanlah ia mengingatkannya tentang itu meskipun Anda telah mendengarnya ribuan kali sehingga Anda hafal dengan semua seluk-beluk mengenainya. Sesungguhnya ilmu tentang keikhlasan itu bukanlah ilmu untuk Anda hafalkan, tetapi keikhlasan niat itu harus terus-menerus diingatkan agar manusia dapat menjaga keikhlasan amalnya setiap saat. Jikalau perlu, Anda terus-menerus mengulang bacaan mengenainya setiap pagi, memutar rekaman ceramahnya setiap sore, dan berintrospeksi akannya setiap malam.
Wahai saudaraku, ikhlas itu amalan yang tak pernah selesai Anda kerjakan. Sekali Anda telah memulainya maka Anda harus menyelesaikannya hingga Anda meninggalkan dunia ini. Ia adalah pertarungan dalam diri Anda sepanjang hayat. Ia adalah perjuangan yang tak kenal lelah. Amal yang tak pernah habis. Hingga berguguran banyak sekali kaum mu’minin karena gagal mempertahankannya. Padahal di antara mereka ada ulama yang sangat tinggi ilmu agamanya, ada dermawan yang sangat pemurah dalam menyedekahkan hartanya, ada mujahid yang sangat berat perjuangannya, ada orang yang sangat rajin ibadahnya, ada orang yang sangat luhur akhlaknya, ada orang yang sudah sangat dikenal kejujurannya, ada orang yang sangat banyak hafalan Qur’annya, dan ada banyak sekali diantara mereka yang Anda mengenalnya dengan segala keutamaan dan kesholehannya. Namun mereka gagal menjaga keikhlasan niatnya. Maka hilanglah semua amal yang telah dikerjakannya seperti debu yang tertiup angin. Tak ada yang tersisa dari amalnya kecuali kesia-siaan.

Saya sudah mengatakannya kepada Anda, dan saya akan mengingatkannya sekali lagi, sesungguhnya keikhlasan itu berat karena harus Anda jaga hingga akhir hayat Anda. Wahai saudaraku, ikhlas itu ada di permulaan sebagaimana pula ia ada di akhir. Ikhlas itu ada sebelum Anda mengerjakan semua perbuatan dan terus ada sampai Anda telah selesai mengerjakan perbuatan itu. Dan ikhlas akan terus ada setelah Anda menyelesaikan perbuatan itu sampai Anda meninggal dunia kelak. Bagaimana itu bisa terjadi? Sesungguhnya tidaklah Anda dikatakan ikhlas jika Anda telah memulai pekerjaan dengan niat ikhlas kepada Allah, tetapi kemudian Anda membangga-banggakannya di hadapan manusia setelah Anda selesai mengerjakannya. Maka berhati-hatilah wahai saudaraku, mulailah beramal dengan niat ikhlas, kemudian kerjakanlah amal itu semata karena Allah, lalu jagalah keikhlasan itu hingga Anda meninggalkan dunia ini.

Katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam menjalankan agama (Az-zumar:11)

Dan sungguh telah banyak sekali orang yang mampu memulai mengerjakan perbuatan dengan niat ikhlas, tetapi mereka gagal mempertahankan keikhlasannya. Ada orang yang mengerjakan perbuatan baik dengan niat ikhlas, kemudia ia mampu menjaga keikhlasan niatnya hingga ia telah selesai megerjakannya. Kemudian berlalulah masa yang panjang hingga ia mengingat-ingat amalan itu kembali dan menjadi ria karenanya. Perhatikanlah bagaimana amalan itu menjadi rusak dan bisa saja hilang pahalanya di sisi Allah meskipun telah berlalu sekian tahun atau bahkan puluhan tahun kemudian. Na’udzubillahi min dzalik..

Maka jika Anda telah memulai suatu pekerjaan dengan niat ikhlas, kemudian Anda mengingat-ingatnya kembali, beristighfarlah sebanyak-banyaknya dan mohon perlindunganlah kepada Allah agar Ia menjaga keikhlasan niat Anda. Semoga dengan demikian amalan Anda dapat terus terjaga kebaikannya hingga Allah membangkitkan Anda kelak di yaumil akhir. Dan apabila Anda telah merusak amalan Anda sendiri dengan mengungkit-ungkit amalan tersebut setelah berlalu masa yang panjang, maka mintalah ampun kepada Allah dan memohonlah kepada-Nya agar Ia tak menghapus amalan tersebut. Jagalah kembali keikhlasan Anda tersebut dan menyesallah dengan apa yang telah Anda lakukan. Semoga Allah tidak menghapus amalan Anda sebagaimana angin meniup debu di atas batu yang licin. Kita berlindung kepada Allah dari niat yang rusak sehingga kita tidak menyesal nanti saat yaumul mizan, yakni saat kita tidak dapati apa-apa dari yang telah kita kerjakan di dunia karena kita sendiri yang telah merusaknya.

Wahai saudaraku, sesungguhnya ikhlas itu adalah amalan hati dan pikiran. Ia menjadi penggerak anggota tubuh kita sehingga kita mengerjakan amalan kebaikan. Dan sesungguhnya ikhlas itu tidak ada hubungannya dengan Anda menampakkan amal atau Anda menyembunyikannya dari pengelihatan orang lain. Dan tidak berarti ikhlas orang yang mengerjakan amal perbuatan baik meskipun ia mengerjakannya secara sembunyi-sembunyi hingga tak ada orang yang mengetahuinya. Begitu juga tidak berarti bahwa orang yang mengerjakan amal baik secara terang-terangan maka dia telah berlaku ria dan tidak ikhlas. Tidak wahai saudaraku, ikhlas tidak dinilai dari ditampakkannya suatu amal atau disembunyikannya. Ikhlas itu ada dalam hati manusia. Ikhlas ada di dalam hati Anda yang terdalam dan Anda tak mungkin mengelabui diri Anda sendiri.
Sesungguhnya keikhlasan itu hanya diketahui oleh Allah Yang Maha Mengetahui serta orang yang mengerjakan perbuatan itu sendiri. Anda tidak akan pernah dapat mengetahui niat amalan seseorang sampai Allah menampakkan semua niat seseorang di hari perhitungan amal kelak. Ketika itu akan ada orang yang Anda mengenalnya sebagai orang sholeh, akan tetapi sebenarnya ia hanya menggunakan topeng kebaikan agar mendapatkan pujian dari manusia atau keuntungan duniawi. Begitulah nilai ikhlas di sisi Allah sangat jauh perbedaannya dibandingkan amal yang tidak disertai keikhlasan. Dua amal yang sama, tetapi dinilai oleh Allah sebagai dua hal yang sangat jauh berbeda. Oleh karena itu, berhati-hatilah Anda dalam beramal dan luruskanlah niat Anda semata-mata hanya karena Allah. Dan terus perbaharuilah niat itu di saat Anda sedang mengerjakannya hingga Anda selesai mengerjakannya.
Ikhlas itu berarti kemurnian atau ketulusan niat karena Allah. Orang yang ikhlas akan mengerjakan amal bukan karena penilaian manusia. Ia tidak perlu pengakuan orang lain akan kebaikannya sehingga ia tak peduli jika ada orang yang melihatnya melakukan amal baik atau tidak. Itu sebabnya orang ikhlas cenderung akan terus beramal baik saat ia sendiri, dan tetap beramal meskipun dalam keramaian. Baginya, tak ada bedanya beramal dalam kesendirian atau keramaian karena amalnya semata-mata hanya ditujukan kepada Allah. Hanya saja, ia akan berhati-hati agar niatnya tidak rusak karena dorongan hawa nafsu dan gangguan setan saat ia beramal di keramaian. Oleh karena itu, ia cenderung untuk tidak menampakkan amal baiknya di depan manusia karena ia khawatir niatnya akan rusak di tengah jalan karena godaan setan.
Bagaimanakah membedakan orang yang ikhlas dengan yang tidak ikhlas dalam mengerjakan suatu amal baik? Jika Anda ditanya dengan pertanyaan seperti itu, maka katakanlah bahwa Anda tak mengetahuinya dan tak akan pernah mengetahuinya. Sesungguhnya ilmu yang demikian itu hanyalah milik Allah semata dan tak ada yang mengaku mengetahuinya kecuali ia adalah pendusta. Namun ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya ikhlas yang terus diamalkan secara kontinu pada seluruh amal baik akan tertanam menjadi sebuah karakter pada diri seseorang. Ikhlas dalam artian ini bukan lagi berarti kemurnian niat dalam suatu amal semata, tetapi menjadi sikap dan watak dalam diri seseorang yang senantiasa meluruskan hidupnya serta mendedikasikan seluruh ibadah dan hidupnya kepada Allah. Orang seperti inilah yang disebut sebagai mukhlis.
Sesungguhnya mengenal orang mukhlis itu lebih dimungkinkan bagi orang lain dibandingkan dengan mengetahui nilai keikhlasan seseorang pada satu amal baik saja. Karena mukhlis itu telah menjadikan ikhlas sebagai karakter dirinya, maka mengenalnya dapat dilakukan, tentunya atas izin Allah. Ketahuilah wahai saudaraku, jika Anda ingin mengetahui apakah seseorang itu tergolong mukhlisin atau bukan, maka cara untuk mengetahuinya adalah dengan mengenal orang tersebut secara mendalam. Sesungguhnya orang ikhlas itu adalah orang yang semakin dalam Anda mengenalnya, akan semakin yakin Anda bahwa ia itu orang yang sholeh. Sebaliknya, semakin Anda mengenal seseorang dalam detail kehidupannya, kemudian Anda mendapati bahwa orang itu tercela akhlaknya dan tersingkap niat busuknya, maka Anda dapat mengetahuinya bahwa ia belum tergolong sebagai mukhlisin. Itu disebabkan karena orang ikhlas tidak memiliki dua wajah pada dirinya.
Wahai saudaraku, orang ikhlas adalah orang yang memurnikan ketaatan hanya kepada Allah dan tak mencampuradukkannya dengan sesuatu yang lain. Dalam dirinya hanya ada satu motivasi hidup yaitu beribadah kepada Allah. Ia tak peduli dengan penilaian orang lain selama Allah ridho terhadap dirinya. Itulah sebabnya Anda akan dapati orang yang ikhlas itu selalu dalam keadaan baik di setiap waktunya. Perhatikanlah bahwa orang ikhlas itu selalu dalam keadaan kebaikan yang sama di waktu pagi, siang, sore, ataupun malam. Ia selalu menjadi orang yang sama, yang tidak mengenal kepura-puraan bahkan kepada dirinya sendiri. Saat Anda bertemu dengannya dan dia dalam keadaan kaya, maka Anda mengenalnya sebagai orang baik. Saat Anda bertemu dengannya di lain waktu dan dia dalam keadaan miskin, maka Anda tetap mengenalnya sebagai orang baik. Begitu juga saat dia dalam keadaan lapang maupun sibuk, sehat maupun sakit, muda ataupun tua, ia tetap menjadi orang yang sama, yaitu orang yang bertakwa kepada Allah.
Dan tak ada contoh yang paling sempurna dalam menggambarkan keikhlasan kecuali pribadi Rasulullah SAW. Perhatikanlah bagaimana Rasulullah tetap menjadi orang yang sama saat ia muda dan saat tuanya, saat memiliki banyak harta dan saat tak memiliki harta, saat ditindas sebagai tawanan dan saat memiliki kekuasaan. Rasulullah SAW selalu menjadi pribadi yang sama dan tak berubah sedikitpun. Begitulah orang yang ikhlas. Ia tak menjadi lemah semangatnya saat tak ada orang yang melihat amalnya. Ia tak menjadi surut imannya saat tak ada orang yang mengakui kebaikannya. Ia tak peduli dengan itu semua karena ibadahnya, hidup dan matinya hanya untuk Allah. Sehingga Anda akan melihatnya terus berupaya maksimal dalam mengerjakan amal sholeh tak peduli ia ada di rumah, di kantor, di sekolah, di jalanan, di masjid, di pasar, di manapun ia berada dan dalam keramaian atau kesendirian, ia selalu memberikan totalitas penghambaan kepada Allah semata.
Wahai saudaraku, sesungguhnya ketulusan niat, kesungguhan ibadah, dan lurusnya pandangan orang ikhlas akan menjaga dirinya selamat di dunia dan di akhirat. Tak ada seorangpun di alam semseta ini, entah dia manusia atau jin yang mampu membelokkan keimanan orang yang ikhlas. Cara pandang dan kesucian hatinya tak mampu disesatkan oleh siapapun. Hingga iblis laknatullah ‘alaih mengakui bahwa ia akan menyesatkan semua orang di dunia ini kecuali orang yang ikhlas. Karena iblis tahu bahwa ia tak akan pernah bisa menyesatkan orang yang ikhlas.
Iblis berkata, “Ya Tuhanku beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” Allah berfirman, “Sesungguhnya kemu termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai hari yang telah ditentukan waktunya (kiamat).” Iblis menjawab, “Demi Kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka (manusia) semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka.” (Shaad:79-83)
Wahai saudaraku, mohonlah pertolongan kepada Allah agar ia menjadikan kita semua menjadi bagian dari orang-orang yang ikhlas. Berusahalah sungguh-sungguh untuk selalu meluruskan niat karena Allah hingga Allah menjadikan ikhlas sebagai karakter dalam diri kita.
Wallahu a’lam bisshowab. Wallahul musta’an. Dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s