Menyambut Baik Nasihat dan Ajakan Kebaikan

Saya jadikan tulisan ini sebagai pembuka karena sangat penting bagi setiap mu’min untuk memiliki hati dan pikiran yang lapang setiap kali menerima nasihat. Dan apabila setiap mu’min menyadari betapa berharganya sebuah nasihat, tentu ia akan meminta orang lain agar sering menasihatinya.

Wahai saudaraku, perhatikanlah dengan baik kisah yang saya sampaikan berikut ini. Kisah ini memiliki makna yang sangat dalam dan hikmah yang sangat mulia. Maka, persiapkanlah diri Anda untuk mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya. Sungguh telah sampai kepada saya kisah tentang Khalifah Harun Al-Rasyid. Meskipun saya tidak mengetahui keshahihan cerita ini, tetapi ada baiknya Anda menggali pesan yang disampaikan.

Suatu hari Khalifah Harun Al-Rasyid sedang menunggangi kudanya melewati suatu kawasan. Ia mengenakan jubah kebesaran yang sangat indah serta menunggangi kuda yang sangat kuat dan baik. Sampai pada satu saat dia bertemu dengan seorang Yahudi yang pakaiannya kusam. Kemudian orang Yahudi itu berkata, “Wahai khalifah, bertakwalah Engkau kepada Allah”.

Sang khalifah kaget mendengar ada orang berkata seperti itu kepadanya. Namun, sesaat kemudian ia langsung turun dari kudanya dan bersujud di atas tanah sambil menangis. Melihat khalifah berbuat seperti itu, orang Yahudi tadi keheranan dan bertanya kepadanya, “Wahai khalifah, apa yang terjadi padamu? Aku hanya mengatakan kepadamu agar Kau bertakwa kepada Allah, lalu mengapa Engkau langsung bersujud dan menangis?”
Kemudian khalifah bangkit dari sujudnya dan berkata, “Sesungguhnya ketika Engkau mengatakan hal itu tadi, Aku kaget dan tersinggung. Namun, kemudian seketika itu juga Aku ingat akan firman Allah:
Dan apabila dikatakan kepadanya, “bertakwalah kepada Allah”, maka akan muncul rasa angkuh di dalam dirinya akan dosanya. Lalu, baginyalah neraka Jahannam. Dan Jahannam itu benar-benar seburuk-buruk tempat kembali. (Al-Baqoroh:206)
Sungguh, Aku tidak inginmenjadi seperti orang yang disifatkan oleh ayat tersebut. Oleh karena itu, maka Aku merendahkan diriku di hadapan Allah dan minta ampun kepada-Nya.

Demikianlah akhlak Khalifah saat mendengar seruan nasihat, bahkan dari seorang Yahudi sekalipun. Dan perhatikanlah bagaimana ia memahami ayat tersebut.
Wahai saudaraku, ayat tersebut menjelaskan bahwa salah satu sifat orang fasik adalah tidak mau menerima nasihat yang disampaikan kepadanya. Dirinya menolak nasihat karena merasa congkak dan sombong. Ia merasa tidak perlu menerima nasihat dan tersinggung jika ada orang lain yang menasihatinya. Ia juga merasa menjadi rendah dan hina karena sebuah nasihat, padahal orang lain tidak bermaksud menghinanya. Terlebih lagi jika nasihat itu datang dari orang yang menurutnya lebih rendah dan lebih bodoh dari dirinya. Bukankah yang demikian itu adalah watak dari orang yang takabbur? Bukankah takabbur itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain? Ya, begitulah akhlak orang fasik dalam menerima nasihat. Dan kita berlindung kepada Allah dari sifat yang demikian.

Seseungguhnya kecongkakan yang ada dalam dada manusia saat ia menerima sebuah nasihat kebenaran disebabkan oleh banyaknya dosa yang ia kerjakan. Demikianlah ayat tersebut mengajarkan manusia. Dosa besar dan kecil yang terus menerus dikerjakan itu akan membuat hati manusia berkarat hingga ia tak mampu lagi melihat kebenaran. Dosa-doa itu menghalangi manusia dari menerima nasihat karena hatinya sudah menjadi seperti batu atau bahkan lebih keras lagi. Meskipun akal sehat dan hati nuraninya mengetahui bahwa nasihat yang disampaikan kepadanya itu baik dan benar, tetapi ia tetap tak mau menerimanya.

Wahai saudaraku, sudah sepantasnya bagi setiap mu’min untuk membersihkan hatinya dari setiap karat yang ada di dalamnya dengan terus-menerus beristighfar seraya memohon ampun kepada Allah. Sudah seharusnya ia selalu siap menerima nasihat meskipun datang dari seorang anak kecil. Bahkan, ia harus menghargai dan menerima nasihat meskipun ia merasa bahwa ajakan kebaikan yang dinasihatkan kepadanya itu sudah terdapat di dalam dirinya. Atau jika nasihat yang disampaikan kepadanya itu berisi peringatan kepada dirinya untuk tidak melakukan sesuatu, maka ia wajib menghargai nasihat dan menerima nasihat itu meskipun ia merasa tidak pernah melakukan perbuatan yang dilarang itu. Tak ada tempat bagi seorang mu’min untuk membela diri, berdebat untuk menolak nasihat, atau malah membalikkan nasihat itu kepada orang yang menasihatinya. Semua bentuk penolakan itu sebenarnya adalah wujud dari kecongkakan yang masih tersisa di dalam hatinya. Maka mohon ampunlah kepada Allah jika Anda masih merasa memiliki sifat seperti itu.

Bukankah agama ini adalah nasihat?
“Agama itu adalah nasihat” (H.R. Muslim)
Dan tidak akan beruntung orang yang hidupnya tidak pernah terlibat dalam upaya saling nasihat-menasihati.
Demi masa, sesungguhnya manusia itu senantiasa berada di dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Dan mereka saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan saling nasihat-menasihati dalam kesabaran.(Al-Ashr:1-3)
Lalu, bagaimana mungkin seorang mu’min tidak merugi jika ia tak pernah mempersiapkan jiwanya dan menata hatinya untuk menerima nasihat?

Nasihat adalah salah satu pilar agama ini. Ia merupakan watak dari jama’ah kaum muslimin. Hancurlah suatu jama’ah jika di dalamnya sudah tidak ada lagi sikap saling nasihat-menasihati. Namun, nasihat bukanlah hanya soal memberi nasihat, tetapi juga bagaimana Anda tulus menerima nasihat dari orang lain.

Semoga Allah membimbing kita dan memudahkan kita untuk selalu menerima nasihat dari siapapun. Dan sebaik-baik nasihat adalah nasihat takwa.
Wallahul musta’an…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s