Tidak Memiliki Keraguan Sedikitpun Akan Keimanannya

A’udzu billahi min_assyaithon_arrojim, Bismillahirrohmanirrohim..
Alhamdulillah, wassholawatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi waman_walah
Asyhadu an_Laa ilaaha illaLlah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah
amma ba’du..

Sungguh wahai saudaraku, tak ada nikmat yang lebih besar di dunia ini selain nikmat iman dan islam. Dengan nikmat itulah maka Allah menjadikan manusia merasakan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan hanya dengan nikmat iman itu manusia mampu bertahan di tengah kondisi yang sulit, menahan sakitnya ujian dunia, dan mensyukuri kenikmatan dunia lainnya dengan tetap mendapatkan keridhoan Allah yang akan mengantarkannya mendapatkan kebahagiaan akhirat. Itulah yang membedakan seorang mu’min dan seorang kafir. Amalan kebaikan seorang mu’min yang dilakukan secara tulus akan diterima oleh Allah, tetapi amal baik seorang kafir tak bernilai apa-apa di sisi Allah meskipun jumlahnya sangat banyak.

Pernahkan Anda mendengar ada orang yang berkata,”Sesungguhnya semua agama itu sama saja. Tuhan dalam berbagai agama itu juga sama saja, hanya namanya saja yang berbeda. Setiap agama mengajarkan kebaikan dan hanya cara dan terminologinya saja yang berbeda. Maka hiduplah dengan mengerjakan amal baik dan tuhan (entah dalam agama apapun) akan membalas kebaikanmu.”? Pernahkah Anda mendengar yang seperti itu? Wahai saudaraku, pernyatan seperti itu sangat sering kita dengar akhir-akhir ini dan membuat beberapa orang yang lemah imannya menjadi terlena dengan ucapan tersebut. Sungguh, ucapan seperti itu adalah perkara bathil dan sangat bertentangan dengan hakikat agama Islam. Saya katakan kepada Anda bahwa agama Islam itu bukanlah agama yang paling benar, tetapi agama Islam itu adalah satu-satunya agama yang benar.

Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam..” (Ali Imran:19)
Perumpamaan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti debu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yang jauh.” (Ibrahim:18)

Demikianlah Allah menjelaskan kepada kita bahwa Islam adalah satu-satunya kebenaran yang diridhoi oleh Allah SWT. Dan tidaklah diterima sedikitpun amalan-amalan orang yang tidak meyakini Allah sebagai Tuhannya meskipun ia adalah orang yang di mata manusia sebagai orang baik atau banyak melakukan amalan kebaikan. Yang demikian itu disebabkan Allah hanya akan menerima amal kebaikan yang dilandasi oleh keyakinan kepada Allah dan bukan oleh sebab nilai-nilai kebaikan universal atau norma masyarakat. Itulah yang dinamakan dengan amalan ikhlas (Lihat: Menjaga Keikhlasan Niat). Dan yang demikian itu disebabkan oleh keadilan Allah. Karena Allah Maha Adil, maka kebaikan orang yang ingkar kepada ALlah itu tidak diterima oleh-Nya sebanyak apapun kebaikan itu.

Allah memang Maha Baik dan Maha Penyayang, Maha Pemaaf dan Maha Pengampun, tetapi Allah juga Maha Adil. Dan karena keadilan Allah itulah langit ini masih tegak dan Bumi masih dipijak. Keadilan Allah menyebabkan seseorang yang sama-sama beramal baik belum tentu mendapatkan balasan yang sama. Yang satu dapat saja masuk surga, tapi yang satu lagi masuk neraka. Orang yang beramal baik karena keimanannya kepada Allah, maka ia masuk surga. Sedangkan orang yang berbuat baik tetapi tidak beriman kepada ALlah, maka ia masuk neraka. Yang demikian itu disebabkan orang yang beriman itu memiliki keutamaan dibandingkan orang yang kafir. Dan juga disebabkan oleh keadilan Allah dalam menghargai hamba-hamba-Nya yang telah beriman kepada-Nya.

Wahai saudaraku, sungguh begitu besarnya nikmat iman itu hingga iman itu menjadi pembeda antara yang haq (benar) dan yang batil. Iman itu menjadi pemisah antara surga dan neraka. Maka sudah sepatutnya jika kita bersyukur atas karunia keimanan dan Islam yang sudah Allah anugerahkan kepada kita. Dan sudah sepatutnya kita berusaha menjaga dan meningkatkan kualitas keimanan kita masing-masing.

Lalu, apakah kemudian memiliki iman (keyakinan) akan keesaan Allah, kebenaran Islam, dan keagungan risalah Muhammad SAW sudah cukup mengantarkan kita menjadi orang yang benar keimanannya? Tidak wahai saudaraku, sesungguhnya iman yang hanya terucap di lisan tidaklah cukup. Ia harus terpatri di dalam hati dan dinyatakan dengan amal perbuatan dalam kehidupan nyata. Bahkan keyakinan yang lemah tidak cukup untuk menjamin diri manusia bahwa ia akan selamat. Yang diinginkan oleh agama ini adalah seorang mu’min dengan keimanan yang benar, kuat menancap di dalam hati dan direalisasikan dengan berbagai macam amal sholeh.
Perhatikanlah bagaimana Allah SWT menjelaskan model seorang mu’min yang hakiki dalam ayat berikut:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat:15)
Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.
Sungguh ayat tersebut seperti sebuah instisari atau saripati dari penjabaran karakter seorang mu’min di dalam Al-Qur’an. Ayat tersebut sangat indah dalam menggambarkan betapa sempurnanya pemodelan yang Allah terangkan di dalam AL-Qur’an mengenai mu’min sejati, yakni seseorang itu hanya akan menjadi seorang mu’min sejati jika memiliki tiga karakter: beriman kepada Allah dan Rasulnya, tidak memiliki keraguan dengan keimanannya, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Mereka itulah yang disebut sebagai orang yang shodiq (benar/lurus/integral) keimanannya. Dan memang hanya mereka itulah orang yang benar keimanannya. Dalam kata lain, tidak akan dan (saya ulangi lagi) tidak akan pernah sampai kapanpun seseorang memiliki keimanan yang benar hingga ia memiliki tiga karakteristik tersebut.

..ulaaika hum_as_shodiqun..” mereka itulah orang-orang yang shodiq (benar)… Wahai saudaraku, tahukah Anda siapakah orang-orang yang shodiq tersebut? Mereka adalah orang yang memiliki keyakinan sangat tinggi kepada keberadaan Allah, keesaan Allah, keMahakuasaanNya, kesempurnaanNya, dan ajaran Rasul-Nya. Mereka tidak memiliki keraguan sedikitpun akan semua yang datang dari Allah baik itu perintah ataupun laranganNya, keputusanNya, kehendakNya, nasib baik atau buruk yang ditimpakan Allah kepadaNya, dan juga setiap ajaran agamaNya. Dan mereka selalu mengisi hari-hari mereka dengan amal ibadah wajib dan sunnah, menginfakkan sebagian besar harta yang dia miliki, mengorbankan apa saja yang bisa dia berikan untuk kebaikan orang lain, melawan segala keburukan dan kejahatan, menegakkan kebenaran, amar ma’ruf dan nahi munkar. Mu’min dengan karakter seperti itulah yang disebut sebagai mu’min yang benar.

Wahai saudaraku, jika penjelasan karakter seorang mu’min shodiq tersebut masih belum jelas bagimu, sesungguhnya sejarah ummat ini telah melahirkan figur-figur mu’min shodiq yang lebih dapat dipahami keteladanannya oleh ummat-ummat berikutnya. Salah seorang itu bernama Abu Bakar radhiyaLlahu’anhu (semoha Allah meridhoinya). Abu Bakar adalah seorang sahabat Nabi SAW yang memiliki karakter as-shodiq, yakni beriman kepada Allah dan RasulNya serta tidak memiliki keraguan sedikitpun tentangnya, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Kelurusan pandangannya dan kedalaman imanannya membuatnya diberi gelar sebagai as-shiddiq, orang yang membenarkan. Mengapa Abu Bakar mendapat gelar as-shiddiq dan erat kaitannya dengan ciri khas mu’min shodiq? Wahai saudaraku, perhatikanlah beberapa kisah mengenai Abu Bakar berikut ini dan cobalah pahami hal tersebut di dalam konteks menjadi mu’min yang benar.

Rasulullah pernah mengatakan bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling mudah hatinya dalam menerima Islam. Ia dengan sangat cepat merespon da’wah Rasulullah SAW untuk masuk Islam dan paling ringan dalam menerima segala yang datang dari Rasulullah. Saat tak ada orang yang percaya kepada da’wah Rasulullah, maka Abu Bakar sudah mendahului orang lain untuk mempercayainya. Dan yang paling terkenal diantaranya adalah keyakinan Abu Bakar akan berita isra’ dan mi’raj Rasulullah SAW.

Saat itu, orang-orang ramai membicarakan kejadian isra’ dan mi’raj yang baru saja diceritakan oleh Rasulullah. Sebagian besar orang menganggap Rasulullah adalah pembohong dan bahkan ada yang berpikir bahwa Rasulullah sudah gila. Kemudian orang-orang bertanya kepada Abu Bakar mengenai hal tersebut sedangkan Abu Bakar pada saat itu bahkan belum mendengarnya. Kemudian Abu Bakar bertanya kepada orang-orang, “Siapakah yang menceritakan hal tersebut?” Kemudian orang-orang menjawab, “Muhammad sendiri yang berkata seperti itu”. Lalu Abu Bakar berkata, “Kalau begitu berarti kejadian itu benar adanya”. Demikianlah keimanan Abu Bakar, ia menerima begitu saja kabar yang berasal dari Rasulullah tanpa berpikir mengenai apa-apa lagi. Sehingga setelah itu kemudian Abu Bakar diberi gelar “as-shiddiq”, orang yang selalu membenarkan.

Seperti itulah contoh orang yang di dalam dirinya terdapat keimanan yang sempurna. Tak ada keraguan barang sedikitpun akan apa yang datang dari Islam. Ia akan menganggapnya sebagai suatu kebenaran yang tidak terbantahkan. Ia akan mempercayai dan meyakininya tanpa reserve (mutlak) dan tanpa resistansi (tidak penolakan) meskipun sedikit.

Sungguh saya sangat menyesalkan sebagian kaum muslimin yang masih memendam keraguan di dalam hatinya mengenai keimanannya. Mereka mengaku seorang muslim, tetapi tidak beriman secara benar akan rukun-rukun iman. Dalam hatinya ada keraguan. Dan saya mengatakan bahwa orang-orang yang seperti ini sebenarnya bahkan belum beriman sama sekali. Bagaimana mungkin seseorang dikatakan beriman jika dia bahkan masih belum yakin dengan keberadaan Allah? Bagaimana mungkin seseorang disebut seorang muslim jika ia masih meragukan kerasulan Muhammad SAW? Sungguh, hampir-hampir mereka itu tidak dapat lagi dikatakan sebagai seorang muslim karena sikapnya tersebut.

Dan diantara salah satu keraguan yang menghinggapi sebagian manusia (muslim) adalah keraguan akan kebenaran agamanya. Mereka mengatakan, “Saya masih ragu-ragu dengan kebenaran agama ini. Apakah setelah manusia mati nanti kita semua akan dibangkitkan kembali? Apakah surga dan neraka itu benar-benar ada?” Kemudian, salah satu pernyataan paling bodoh yang pernah saya dengar dari seseorang yang mengaku beriman adalah, “Sesungguhnya pilihan kita untuk beragama Islam dan beramal sholeh adalah pilihan yang terbaik terlepas dari ada atau tidak adanya kehidupan setelah mati nanti. Jika memang kehidupan setelah mati itu ada, dengan telah berimannya kita dan beramal sholeh, berarti kita akan selamat karena kita telah mempersiapkannya. Jika memang kehidupan setelah mati itu tidak ada, toh tidak ada salahnya kita beriman dan beramal sholeh karena itu tidak merugikan orang lain dan membuat hidup kita di dunia ini menjadi lebih baik dan terkendali”. Wallahi, sungguh ucapan itu adalah ucapan yang paling bodoh di dunia jika itu diucapkan oleh seorang muslim.

Adakah tersisa keimanan dari seseorang yang berkata seperti itu? Jika Anda menanyakan hal itu kepada saya, maka saya akan menjawabnya, “Tidak tersisa keimanan secuilpun dari orang yang berkata bahkan berpikir seperti itu”. Sungguh, perkataan seperti itu tidak keluar kecuali dari orang yang tidak percaya. Dan tidak percaya itu artinya tidak beriman. Demikianlah hakikat iman itu pada dasarnya meyakini dan mempercayai segala rukun iman dan turunannya dengan kepercayaan yang penuh dan bulat. Tidak ada keraguan sedikitpun yang menyertainya. Seorang mu’min artinya dia mempercayai keberadaan Allah, RasulNya, hari kiamat, alam kubur, yaumul mizan, surga dan neraka, dan segala hal ghoib lainnya dengan tidak memiliki keraguan sedikitpun. Seorang yang beriman juga meyakini dengan sepenuh hati dan tanpa reserve akan kitab yang telah Allah turunkan yaitu Al-Qur’an beserta seluruh isi, nasihat, dan larangan yang trekandung di dalamnya. Tidak dikatakan seseorang itu sebagai seseorang yang shodiq jika ia masih memiliki keraguan barang sedikitpun mengenai hal-hal yang seharusnya ia imani tersebut.

Wahai saudaraku, keimanan yang benar itu akan dengan sendirinya membawa konsekuensi yang serius dalam ketaatan seorang muslim kepada Kholiqnya. Anda akan melihat bahwa orang yang mengimani Islam dengan keyakinan yang sempurna dan bulat pasti akan menjalankan segala perintah dan larangan Allah. Mustahil ia memiliki keimanan yang sempurna, tetapi ia malas beribadah. Mengapa demikian? Hal itu karena seorang yang memiliki keyakinan yang sempurna akan merespon segala perintah dan larangan Allah dengan seketika atau spontan. Jika ia mendengar ada perintah untuk mengerjakan sholat dan menunaikan zakat, maka ia akan bergegas untuk menjalankan perintah tersebut disebabkan keyakinannya akan urgensi dan kebaikan perintah tersebut.

Tidak heran jika kemudian orang yang paling sempurna keimanannya, juga akan menjadi orang paling sempurna amal ibadahnya. Lagi-lagi, Abu Bakar menjadi teladan bagi kaum muslimin dalam hal ini.
Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabatnya: “Siapakah di antara kalian yang berpuasa pada hari ini?” Abu Bakr menjawab, ”Saya!” Rasul bertanya lagi: ”Siapakah di antara kalian yang mengiringi jenazah pada hari ini?” Abu Bakr menjawab, ”Saya!” Ditanya lagi oleh Rasul: “Siapakah yang memberi makan fakir miskin pada hari ini?” Abu Bakr kembali menjawab, “Saya!” Bertanya lagi Rasul: “Siapakah di antara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?” Dan Abu Bakr lagi yang menjawab, “Saya!” Maka Rasulullah bersabda: “Tidaklah terkumpul perkara tersebut pada seorang hamba, kecuali pasti masuk surga.” (HR. Muslim)

Perhatikanlah bagaimana Abu Bakar menjadi orang yang paling banyak dan paling baik amalan ibadahnya dibandingkan para sahabatnya yang lain. Konon, para sahabat akhirnya sadar mengapa Abu Bakar menjadi sahabat Rasulullah yang paling dicintai lebih daripada sahabat yang lain karena memang Abu Bakar mengalahkan mereka dalam hal keyakinan, ibadah, dan ilmu. Bukankah hal itu berhubungan satu sama lain? Abu Bakar as-shiddiq, seseorang dengan keimanan yang paling mendalam ternyata juga menjadi orang yang paling banyak ibadahnya dan paling tinggi ilmunya. Bukan hanya itu, Abu bakar adalah orang yang paling besar pengorbanannya dalam berdakwah dan berjihad. Ternyata, rangkaian karakteristik mu’min yang shodiq yang dijelaskan dalam ayat 15 surat Al-Hujurat yang disampaikan di awal tulisan ini saling berkaitan satu sama lain. Mu’min yang shodiq (benar) adalah mu’min yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, tidak ragu-ragu sedikitpun dalam keimanannya, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.

Wahai saudaraku, begitu juga para sahabat Rasulullah adalah orang-orang dengan keimanan yang benar. Dan itu berimplikasi pada kesigapan mereka merespon perintah dan larangan Allah. Saat turun perintah berhijab bagi kaum perempuan, maka mereka langsung mengenakan kain yang mereka miliki untuk menjadi hijab saat mereka keluar rumah. Saat turun larangan meminum khamar, lalu mereka menumpahkan khamar hingga tumpahan khamar berserakan di kota Madinah. Demikianlah kaum muslimin di waktu itu sangatlah tanggap merespon panggilan Allah tanpa reserve. Hal itu disebabkan tingkat keimanan mereka yang sempurna.

Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya bukan hanya ditunjukkan dalam kesigapan dalam menjalankan ibadah, tapi juga kesigapan dalam mengikuti hukum-hukum yang telah Allah terangkan dalam Al-Qur’an. Bagi mereka yang beriman dengan keyakinan yang penuh, maka mereka akan mentaati segala perintah dan larangan yang bersumber pada hukum Allah.
Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh. Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku lalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang lalim. Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (An-Nur:47-52)

Demikianlah seorang mu’min itu adalah mereka yang taat kepada Allah dalam hal apapun. Mereka tidak memilah dan memilih mana hukum Allah yang mereka suka dan meninggalkan apa yang mereka tidak suka. Appaun yang diperintahkan Allah, maka itu harus dilaksanakan. Dan apapun yang dilarang Allah, maka itu harus ditinggalkan. Tidak ada pilihan lain dalam hidup mereka kecuali “dengar dan taat”, sami’an wa tho’atan. Jika mendengar panggilan azan, maka mereka akan segera meresponnya..sami’na wa atho’na..kami dengar dan kami ta’at. Begitu juga ketika mereka mendengar perintah Allah yang lainnya. Itu semua tidak lain karena mereka paham betul akan kaidah dalam agama ini bahwa hak Allah lebih wajib untuk dipenuhi daripada hak makhluk. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Sang Kholiq.

Wahai saudaraku, perhatikanlah hal tersebut. Jika seorang mu’min benar-benar memiliki kepercayaan yang penuh, keyakinan yang sempurna, dan keimanan yang bulat, maka seorang mu’min itu akan menjadi orang yang merdeka. Karena baginya, tak ada seorang makhlukpun di dunia ini yang mampu mengekangnya dalam menaati Allah dan Rasul-Nya. Perhatikanlah wahai saudaraku, tidak ada seorangpun. Dan hal itulah yang menjadikan ia pantas menyandang predikat seorang muslim (orang yang berserah diri). Karena pada hakikatnya seorang muslim artinya adalah orang yang merdeka. Merdeka dari jerat kehidupan dunia, merdeka dari hawa nafsu, merdeka dari penjajahan orang lain, merdeka dari bayang-bayang orang lain, dan seterusnya. Yang ada dalam hidupnya hanya mendengar dan taat kepada Allah. Insya Allah pembahasan ini akan dibahas lebih dalam pada tulisan lain di masa mendatang, jika Allah mengizinkan.

Selain itu, keimanan yang sempurna akan menyebabkan hidup seorang mu’min menjadi tenang dan tidak diliputi kegelisahan. Keyakinannya yang sempurna bahwa Allah adalah Al-Rozaq atau pemberi rizki misalnya, akan membuat seorang mu’min tidak akan menjadi stres hanya karena memikirkan kesulitan finansial. Begitu juga keyakinannya bahwa ALlah adalah Al-Hakam dan Al-‘Adl akan membuatnya yakin bahwa segala suatu kezhaliman sekecil apapun akan dibalas oleh Allah sehingga ia tidak akan melakukan tindakan balas dendam pada seseorang yang telah menganiayanya.

Sungguh wahai saudaraku, menjadi muslim shodiq adalah sebuah keharusan bagi seorang muslim. Kita harus terus berupaya agar dapat menjadi mu’min yang shodiq karena memang itu diperintahkan oleh Allah SWT. Kita berlindung kepada ALlah dari bisikan, bujuk rayu dan godaan syetan yang dapat membuat hati kita menjadi ragu-ragu sehinga menggelincirkan kita dalam menjadi mu’min yang shodiq. Oleh karena itu, sudah semestinya kita berlindung kepada Allah SWT jika tiba-tiba terlintas pikiran dan terbersit keinginan untuk bersikap ragu atas keimanan yang sudah ALlah anugerhkan kepada kita.
Wallahul Musta’an…

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s