Menghiasi Diri Dengan Akhlak Mulia

Bismillahirrohmanirrohim..

Alhamdulillah..wassholawatu wassalaamu ‘ala Rasulillah.. wa ‘ala alihi wa man_walah.. wa laa hawla wa laa quwwata illa biLlah..

Wahai saudaraku, kaum mu’minin di manapun Anda berada. Pada kesempatan ini saya akan mencoba memaparkan secara singkat mengenai hal yang sangat penting bagi seorang mu’min untuk diketahui dan dipahami. Sebenarnya, hal ini merupakan sesuatu yang sangat umum dan sudah jamak kita dengar di banyak tempat, tetapi sering sekali kita abaikan dan jarang sekali kita sadari. Untuk memulainya, saya akan sampaikan sebuah kisah singkat, yang dari kisah ini akan saya sampaikan hikmahnya, sehingga Anda dengan izin Allah tentunya dapat memahami bangunan Islam ini secara utuh sebagai bangunan yang solid, kokoh, simetri dan kongruen dalam segala aspek kehidupan. Semoga Allah SWT memudahkan saya untuk menyampaikannya, dan memberikan kemudahan pada Anda untuk memahaminya.

Kisah ini adalah kisah dua orang wanita di zaman Rasulullah SAW. Yang pertama adalah wanita yang rajin sekali beribadah, sedangkan yang kedua adalah wanita yang biasa-biasa saja ibadahnya.Imam Al-Bukhori meriwayatkan sebuah hadits dalam Al-Adabul Mufrod:

Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ada seorang wanita yang rajin shalat malam, puasa dan shadaqah, akan tetapi dia selalu mengganggu tetangganya dengan lisannya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada kebaikan padanya, dia termasuk penghuni neraka”. Kemudian disebutkan lagi, ada wanita yang melakukan shalat wajib lima waktu dan dia suka bershadaqah dengan keju dan tidak mengganggu seorang pun juga, maka Nabi bersabda: “Dia termasuk ahli surga”.

Wahai saudaraku, dari kisah yang mengawali tulisan ini, dapatlah kiranya Anda menebak apa yang akan saya bicarakan di sini. Sesuai dengan judul tulisan kali ini, saya akan membahas mengenai pentingnya seorang mu’min menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia. Begitulah yang telah diketahui oleh kaum mu’minin sejak Rasulullah SAW datang hingga hari ini, bahwa memiliki akhlak mulia merupakan bagian yang terintegrasi dalam diri seorang mu’min. Tidak bisa tidak, seorang mu’min wajib memiliki akhlak yang mulia dan berbudi pekerti luhur agar dapat menggapai derajat takwa.

Ketahuilah saudaraku, berakhlak dengan akhlak yang mulia bukan hanya asesori pelengkap dalam agama ini. Bahkan ia menjadi sesuatu yang sangat penting hingga Allah SWT mengutus Nabi akhir zaman SAW untuk mengemban misi menyempurnakan akhlak mulia.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad)

Oleh karena kesempurnaan akhlak adalah bagian dari tujuan yang sangat penting dalam agama ini, maka memilikinya akan menempatkan seseorang dalam derajat yang sangat mulia di sisi Allah. Derajat orang-orang yang memiliki akhlak mulia adalah derajatnya orang bertakwa, dan derajat takwa adalah derajat terbaik di sisi Allah SWT.

“Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi)

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi)

Perhatikanlah wahai saudaraku, saya ingin Anda benar-benar memahami dan menyadari dengan penuh kesadaran dan pemahaman bahwa memiliki akhlak mulia adalah pencapaian terbaik bagi keimanan seorang mu’min. Saya ulangi lagi, memiliki akhlak mulia adalah pencapaian terbaik bagi keimanan seorang mu’min. Jika Anda masih belum memiliki pemahaman akan hal ini, maka apa yang akan saya tulis dan jelaskan pada paragraf-paragraf berikutnya mungkin tak akan bermanfaat bagi Anda.

Seringkali ada sebagian kaum muslimin yang mengira, bahwa hidup ini adalah untuk beribadah kepada Allah semata dengan cara melaksanakan ibadah mahdhah. Kemudian mereka mengerjakan ibadah-ibadah mahdhah seperti sholat, puasa, haji, dan umrah. Semua dikerjakan baik yang wajib dan ditambahkan pula dengan yang sunnah. Hampir-hampir tidak pernah terlihat mereka berhenti mengerjakan sholat, puasa sunnah, qiyamullail, dan membaca Al-Qur’an. Kesibukannya sehari-hari diisi dengan aktivitas zikir, membaca sholawat, dan berada di masjid. Namun, sayang seribu sayang, mereka tidak menyempurnakan amal ibadah mahdhahnya tersebut dengan akhlak yang mulia terhadap sesama. Seringkali mereka mengucapkan perkataan yang menyakiti orang lain. Seringkali tindakannya dikerjakan tanpa memikirkan dampaknya pada perasaan orang lain. Seringkali ia hanya memikirkan dirinya sendiri karena ia merasa dirinya paling benar dan sudah sholih. Lalu ia melupakan tutur kata yang lembut kepada semua orang. Ia merasa berat tersenyum pada orang lain. Yang lebih buruk lagi, ia menjadi merasa dirinya layak dihormati oleh orang lain karena ia merasa istimewa dengan keunggulan amal ibadah yang sudah dia lakukan.

Adakah yang salah dengan orang yang rajin melaksanakan ibadah? Tidak wahai saudaraku, tak ada yang salah sama sekali. Justru itu menjadi sesuatu yang harus kita kejar dalam hidup ini. Namun, saya hanya ingin mengingatkan kita semua, khususnya diri saya pribadi, bahwa menjadi seorang muslim berarti memenuhi hak Allah dan hak manusia. Menjadi seorang muslim berarti selalu berusaha menghiasi diri dengan akhlak yang mulia. Menjadi muslim berarti menampakkan wajah yang ceria pada orang lain dengan tulus, mudah tersenyum, bertutur kata lembut, menolong orang yang kesusahan, tidak mau menang sendiri, menghormati orang tua, menyayangi anak-anak, mau mendengarkan nasihat, tidak enggan mengucapkan kata maaf, pandai berterima kasih, dan  menawarkan bantuan kepada orang lain.

Lalu kepada siapa hendaknya kita bermuamalah dengan akhlak yang mulia? Wahai saudaraku yang saya cintai karena Allah, sesungguhnya kita diperintahkan untuk menghiasi diri dengan akhlak yang mulia pada saat kapanpun dan dimanapun. Aklak mulia harus diterapkan kepada semua manusia, apakah dia itu orang beriman maupun orang kafir, orang terdekat maupun orang terjauh, orang terpandang maupun orang lemah. Tidak pernah Rasulullah SAW yang mulia mengajarkan kita untuk menghardik anak yatim Nasrani, atau mencuri uang orang Yahudi, atau menampar orang Hindu padahal ia tidak berbuat kerusakan. Sungguh, yang demikian itu tidak pernah diajarkan dalam Islam sehingga tidaklah layak seorang muslim berbuat seperti itu. Namun, tuntutan berakhlak mulia juga tidak seharusnya dijadikan alasan untuk membiarkan penindasan orang kafir terhadap kaum muslimin di suatu negeri. Pembahasan ini akan menjadi panjang dan akan penulis jelaskan di tempat lain, insya Allah, tetapi di sini saya akan sedikit saja membahasnya agar tidak terjadi kerancuan yang sering salah dipahami oleh masyarakat.

Meskipun tidak pada tempatnya dan bukan menjadi tujuan saya menulis tulisan ini,  tapi secara tidak disengaja saya harus menjelaskan beberapa hal. Mungkin ini memang yang Allah takdirkan bagi saya. Bagaimanapun, saya pikir ini masih cukup relevan dengan pembahasan kita kali ini.

Wahai saudaraku, seringkali kita mendengar bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamiin, rahmat bagi semseta alam. Hal ini sebagaimana yang termaktub dalam surat Al-Anbiya ayat 107:

“Dan tidaklah kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam”.

Sebagian kaum muslimin saat ini, mungkin sebagian besar, seringkali hanya mengingat kata rahmatan lil ‘alamiin, tanpa mengerti makna ayat tersebut secara keseluruhan. Kemudian mereka berkata, sesungguhnya Islam itu adalah rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam, maka sudah sepatutnya kita mengasihi semua ummat manusia tanpa pandang bulu. Sebagian orang mengatakan, kita semua sebagai anak Adam, termasuk pada orang kafir, harus saling mengasihi dengan segala cara, termasuk membiarkan mereka menyebarkan kepercayaannya kepada kaum muslimin, menghadiri acara-acaranya, mengucapkan selamat atas hari rayanya, bergabung bersama mereka dalam segala urusan, membiarkan mereka menjalankan hukum-hukum meskipun bertentangan dengan agama lain, dan seterusnya. Menurut orang-orang seperti ini, tidak boleh kaum muslimin berperang dengan orang kafir dengan alasan apapun, tidak boleh juga mencegah menyebarnya aliran sesat karena setiap orang harus diberi kebebasan beragama, tidak boleh meyakini bahwa agama Islam yang paling benar, jika pipi kiri ditampar maka hendaknya kita memberikan pipi kanan, dan seterusnya. Na’udzubillahi min dzalik. Sungguh, penafsiran seperti itu sangatlah  sembrono (jur’ah) dan dangkal.

Tidaklah seorangpun ahli tafsir dari kalangan sahabat dan ulama salaf, yang mencintai Al-Qur’an dan sunnah serta berada di atas jalan yang lurus, yang memiliki pandangan seperti itu dalam menafsirkan makna rahmatan lil ‘alamiin. Sesungguhnya makna ayat tersebut tidaklah meniadakan keutamaan hukum-hukum Islam atas hukum lainnya di dunia. Hal ini disebabkan makna rahmat di sana bukanlah berarti perbuatan kasih sayang sesama manusia, akan tetapi bermakna sebagai anugerah atau hadiah yang Allah berikan kepada semua ummat bahkan semua makhluk.

Jadi, makna ayat tersebut adalah diturunkannya Rasulullah SAW bersama agama Islam yang dibawanya merupakan anugerah (rahmat) yang Allah berikan kepada ummat manusia seluruhnya baik di Arab, di Indonesia, di Amerika, atau di belahan dunia manapun (lil ‘alamiin). Makna rahmat di sana sama seperti makna hujan yang menjadi rahmat bagi manusia. Itu juga bermakna bahwa syari’at Islam berlaku pada zaman dahulu, zaman sekarang, dan zaman yang akan datang, atau hingga kiamat kelak.  Demikianlah yang diterangkan oleh para imam dan huffazh, seperti Imam At-Thabari, Al-Qurthubi, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, dan As-Syaukani rahimahumuLlah yang diambil dari pendapat sahabat Ibnu Abbas radhiyaLlahu ‘anhu. Jika demikian, maka aturan-aturan Islam tidak dibatasi oleh tempat dan berlaku sepanjang zaman sejak mulai diutusnya Rasulullah SAW hingga hari kiamat nanti.

Dan demikianlah pendapat yang benar dalam menafsirkan makna rahmatan lil ‘alamiin. Jadi, sama sekali bukan berarti kasih sayang sesama manusia baik dia itu orang Islam maupun orang kafir, apalagi membiarkan terjadinya kemungkaran dan dosa atau penyelewengan akidah dan syari’at atas dasar cinta kasih sesama manusia. Penjelasan ini bisa sangat panjang dan tidak sepantasnya saya terangkan di sini. Oleh karena itu, saya akan meninggalkan pembahasan mengenai hal tersebut. Jika memang memungkinkan saya akan coba menjelaskannya dalam tulisan yang lain, insya Allah. Saat ini, saya akan lebih memfokuskan pembahasan pada pembahasan mengenai akhlak mulia.

Wahai saudaraku, sesungguhnya orang yang paling berhak pertama kali merasakan indahnya akhlakul karimah kita adalah orang-orang terdekat dengan kita. Mereka adalah orang tua, kakak-adik, suami/istri, anak-cucu, karib kerabat, dan tetangga-tetangga kita. Mereka menjadi orang yang paling pantas merasakan indahnya akhlak mulia dari seorang muslim. Maka tidak seharusnya ada seorang muslim yang berbuat baik kepada teman-temannya di sekolah/kantor/lingkungan, tetapi berlaku kasar pada ayah ibunya di rumah. Begitu juga tidak mungkin ada seorang muslim yang berbuat baik pada kawan-kawannya yang sering hanya dia jumpai dan kenal di facebook, tetapi bersikap keras, zholim, dan tidak ramah pada suami/istri dan anak-anaknya di rumah. Tidak mungkin wahai saudaraku. Sungguh itu sama sekali tidak mungkin ada pada diri seorang mu’min.

Di sini dapat kembali saya sampaikan, bahwa setiap muslim diwajibkan bersikap baik kepada semua orang, tak peduli agama, ras, kewarganegaraan, suku, maupun usia. Dalam hal ini, seorang muslim selalu berkewajiban menegakkan keadilan, membantu yang kesulitan, dan segala jenis kegiatan muamalah lainnya dengan baik. Namun, seorang muslim harus memprioritaskan kemuliaan akhlaknya pada ibu bapak, suami/istri, anak-cucu, karib kerabat, dan tetangga-tetangganya. Dan setelah mereka barulah orang yang lebih jauh hubungannya, kemudian orang yang lebih jauh lagi. Artinya, orang tua itu lebih berhak untuk dipergauli dengan cara yang baik daripada teman kantor, seorang suami/istri lebih berhak untuk dipergauli dengan cara yang baik daripada tetangga, anak lebih berhak dipergauli dengan cara yang baik oleh orang tua daripada anak tetangga, dan seterusnya.

Adapun akhlaqul karimah pastilah hanya berada pada lingkup kebaikan. Akhlak mulia bermakna kebiasaan-kebiasaan baik dalam hubungan sesama manusia, seperti rasa hormat, berterima kasih, meminta maaf, tidak mengganggu orang, tidak menyakiti orang dengan lisan dan tangan, tidak berbuat kasar, dan segala perkataan yang baik. Sedangkan berlaku curang, seenaknya sendiri, tidak menghargai orang lain, berlebih-lebihan dalam bercanda, berkata kasar dan menyakitkan, bermuka masam, serta akhlak tercela lainnya bukanlah bagian dari akhlaqul karimah, terlepas kepada siapapun kita bersikap seperti itu.

Oleh karena itu, tidaklah benar jika ada seorang muslim yang menempeleng anak orang lain karena ia membela anaknya yang jelas-jelas telah berbuat salah. Tidak dikatakan orang yang memiliki akhlak mulia mereka yang menyembunyikan karib kerabatnya dari ditegakkannya hukum padahal dirinya mengetahui bahwa karib kerabatnya itu bersalah. Yang demikian itu karena perbuatan-perbuatan tersebut bukanlah perbuatan adil yang menjadi salah satu pilar akhlak mulia. Tidak wahai saudaraku. Yang saya maksud adalah orang yang terdekat dengan kita merupakan orang yang paling pantas merasakan indahnya akhlak mulia kita. Sedangkan akhlak mulia itu wajib diterapkan pada semua orang.

Seorang muslim wajib bersikap ramah dan santun terhadap semua orang, khususnya kepada sesama kaum muslimin. Hal ini tidak memandang golongan, madzhab, kelompok, ataupun partai. Tidaklah mungkin seorang yang memahami agama ini dengan benar hanya akan murah senyum pada orang yang satu madzhab dengannya. Ia juga tidak mungkin bersikap manis dan santun terhadap sesama anggota partai atau kelompoknya, kemudian bersikap cuek dan curiga pada anggota kelompok lainnya padahal ia masih sesama muslim. Dan demikianlah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat radhiyaLlahu ‘anhum, dan ulama-ulama salaf rahimahumuLlah. Mereka semua senantiasa bersikap baik kepada tetangganya, meskipun tetangganya adalah orang Nasrani atau Yahudi. Adapun jika sudah masuk dalam ranah akidah, atau permusuhan karena pengkhianatan dan penindasan terhadap hak-hak kaum muslimin, maka setiap muslim wajib membela kehormatan diri dan agamanya.

Saudaraku kaum mu’minin, saya harap Anda dapat mengerti bahwasannya setiap kita dituntut untuk berakhlak mulia di manapun dan kapanpun. Kita semua diperintahkan untuk berlaku santun dan menolong sesama baik itu di rumah, di lingkungan masyarakat, di kantor, di kampus, di sekolah, atau di tempat lainnya. Akhlak mulia harus selalu ditampakkan pada saat bekerja, berdagang, belajar, olahraga, dan aktivitas lainnya. Oleh karena itu, kita tidak diperkenankan untuk berlaku curang, karena Allah SWT memerintahkan setiap orang untuk berllaku adil, bahkan atas dirinya sendiri.

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, meskipun atas diri kalian sendiri, atau ibu-bapak, atau kaum kerabatmu…” (Annisa: 135)

Yang saya maksud di sini adalah seseorang meninggalkan kewajiban dan tanggung jawabnya di masyarakat karena ia terlalu sayang pada keluarganya di rumah sehingga merasa enggan meninggalkan anak istrinya. Tidaklah begitu wahai saudaraku. Bukan itu yang dimaksud dengan memiliki akhlak mulia. Allah SWT tidak suka orang yang beralasan dengan kecintaannya pada keluarganya, kemudian meninggalkan kecintaannya pada dakwah dan jihad. Saya berlindung kepada Allah dari menjadi orang yang seperti itu.

Secara umum, maka prinsip yang digunakan dalam berperilaku baik kepada sesama harus tetap dalam koridor komitmen terhadap ajaran-ajaran Islam. Artinya, tidak bisa seseorang dengan alasan berlaku baik kepada sesama kemudian ia meninggalkan aturan-aturan Allah. Tidak benar jika ada orang yang menggunakan dalil kewajibannya untuk berlaku baik kepada keluarga membuatnya bekerja sama dalam kemungkaran bersama keluarganya tersebut. Itu tidak disebut sebagai akhlaqul karimah. Hal ini seringkali disalahpahami oleh masyarakat. Ketika ada seseorang yang tidak mau melindungi keluarga atau kawannya yang sudah terbukti melakukan kesalahan, kemudian akan dikatakan kepada orang tersebut bahwa orang tersebut tidak solider atau setia kawan. Padahal, itu sama sekali bukan makna dari berkasih sayang dalam konteks akhlak mulia. Justru itu digolongkan sebagai akhlak yang tercela.  

Hal tersebutlah yang diwanti-wanti Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang teguh kepada tali Allah, dan tali manusia…”(Ali Imran:112)

Demikianlah prinsip yang harus dipegang teguh oleh kaum muslimin agar mereka tidak diliputi kehhinaan. Kuncinya ada pada keharmonisan dalam menjaga tegaknya diinuLlah dalam diri mereka dan kaum muslimin, dan membangun hubungan yang baik dengan sesama. Keduanya harus ada secara bersamaan. Ibarat dua sisi mata uang, keduanya harus terus berjalan beriringan dan tak dapat dipisahkan.

Ayat itu sekaligus menjadi hujjah (argumentasi) tak terbantahkan atas kewajiban bagi seorang muslim untukberiman kepada Allah dengan mengerjakan berbagai ibadah secara rajin dan juga bergaul dengan akhlak mulia kepada sesama. Tidak bisa seseorang hanya memilih salah satu diantaranya. Barangsiapa yang hanya mengerjakan salah satu diantaranya dan meninggalkan yang lain, maka ia sungguh menjadi orang yang diliputi kehinaan di manapun ia berada.

Kemudian ada orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya si fulan itu rajin ke masjid dan sholat berjama’ah, tapi dia sering mengucapkan perkataan yang menyakiti hati orang lain. Lebih baik saya, meskipun saya sholatnya masih bolong-bolong, tetapi selalu berkata baik kepada orang lain.” Yang lainnya ada yang berkata, “Sesungguhnya si fulanah itu memakai jilbab panjang dan tertutup rapat, tapi masih suka menggunjing orang lain. Saya lebih baik darinya, meskipun pakaian saya terbuka, tetapi saya tidak suka mengumbar aib orang lain. Yang lebih penting bagi kita itu mengenakan hijab hati, bukan hanya sekedar menutup aurat. Lebih baik copot saja jilbabnya kalau masih seperti itu.” Ada juga orang yang berkomentar, “Tidak penting bagi orang menghafal Al-Qur’an jika kelakuannya masih tidak benar. Kita tidak perlu menghafal Al-Qur’an, yang penting jadi orang harus baik.”

Pernahkah Anda mendengar orang yang mengatakan hal semacam itu? Saya sering mendengar perkataan-perkataan semacam itu. Sungguh perkataan seperti itu sangatlah mengecoh dan dapat menyesatkan orang-orang yang lemah ilmu dan imannya. Yang demikian itu saya sebut sebagai kekacauan berpikir (logical fallacy). Perkataan seperti itu sangatlah tidak tepat. Akan tetapi orang yang rajin sholat, maka ia akan mendapat pahala sholatnya, dan mendapat azab Allah untuk perbuatan kasarnya kepada orang lain jika ia memang berbuat seperti itu. Sedangkan orang yang meninggalkan sholat, maka ia akan mendapatkan dosa atas sholat yang ia tinggalkan, padahal sholat adalah amal yang paling utama dan pertama diperiksa di akhirat nanti. Begitu juga wanita yang mengenakan hijab, maka ia terhindar dari dosa mengumbar aurat, tetapi mendapatkan dosa atas kebiasaan menggunjing orang lain. Adapun orang yang membuka auratnya, maka ia mendapatkan dosa atas itu, selebihnya Allah sendiri yang menentukan. Begitulah juga seterusnya. Demikianlah yang kami pahami dalam kapasitas sebagai manusia. Adapun balasan amal perbuatan semata-mata hanyalah wewenang Allah SWT.

Manakah yang lebih baik di antara kedua jenis manusia tersebut? Sebenarnya tak ada yang baik di antara keduanya. Yang diinginkan agama ini adalah orang yang berpegang teguh menjalankan agama (hablumminaLlah), dan berakhlak yang baik kepada sesama manusia (hablumminannaas). Bukankah demikian yang termaktub dalam surat Ali-Imran yang sudah disebutkan sebelumnya?

Lalu, bagaimana mungkin bisa ada orang yang rajin beribadah tapi tidak memiliki akhlak yang baik kepada orang lain? Wahai saudaraku, sesungguhnya itu terjadi pasti karena ada yang tidak beres dengan amal ibadah yang ia lakukan. Orang yang rajin mendirikan sholat, pasti akan terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Mengapa ada orang yang rajin sholat, tapi masih suka mengerjakan perbuatan tercela? Jawabannya, karena ia tidak benar-benar mendirikan sholat. Ia bisa jadi tergolong sebagai orang yang lalai dalam sholatnya. Itu bisa berarti dia tidak ikhlas, tidak khusyuk, tidak bersungguh-sungguh, atau tidak mencontoh sholatnya Rasulullah SAW. Bisa jadi ia hanya mengikuti gerakan sholat, tapi tidak pernah mengingat Allah dalam sholatnya kecuali sedikit, sehingga gerakannya tak lebih dari sekedar orang yang berolah raga. Tidak ada bekas (atsar) dari ibadah yang ia lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Itu juga bisa terjadi lantaran ia kurang memahami ilmu agama, sehingga berpikiran bahwa Islam ini hanya terdiri dari kumpulan ritual tertentu dan tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain. Orang yang demikian perlu diberi pemahaman yang benar tentang konsep Islam yang sempurna dan paripurna. Jika ia ikhlas belajar dan beniat untuk menjadi mu’min yang baik, insya Allah ia akan menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia.

Demikianlah wahai saudaraku, mu’min yang baik itu bukanlah mereka yang menjalankan sebagian ajaran Allah SWT dan meninggalkan sebagian yang lain. Tidak ada alasan bagi kita untuk menanggalkan akhlak yag mulia dalam kehidupan sehari-hari. Sesungguhnya aklak yang baik itu sangat berkaitan erat dengan akidah yang benar. Maka, dengan ini saya berwasiat kepada kaum mu’minin semua, khususnya kepada diri saya pribadi, untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah melalui peningkatan kualitas akhlak yang mulia di manapun dan kapanpun kita berada.

Semoga Allah SWT menuntun kita ke atas jalan yang lurus, dan mempermudah hati dan pikiran kita agar terus berupaya menjadi mu’min yang lebih baik.

Wallahul muwafiq ilaa aqwaamit_thoriiq

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s